Keseimbangan Konservasi dan Restorasi Hutan Penting untuk Menghadapi Krisis Deforestasi
Data Kementerian KLHK, jutaan hektare hutan hilang dalam beberapa dekade terakhir akibat alih fungsi lahan, kebakaran, dan pembalakan liar.
Untuk menjamin hasil nyata, APP menyiapkan unit restorasi khusus, panel penasihat independen, serta sistem pemantauan transparan.
Respons Positif dari Organisasi Lingkungan
Langkah APP mendapat perhatian dari sejumlah organisasi lingkungan. Aditya Bayunanda, CEO WWF Indonesia, menilai komitmen pendanaan tersebut memberi harapan baru.
“Komitmen pendanaan ini sangat penting. Kita tahu prosesnya tidak murah dan tidak mudah. Konservasi adalah isu jangka panjang dan kompleks, terutama di Sumatra dengan banyak komunitas. Langkah APP memberi saya optimisme karena mereka berani menaruh uang sesuai komitmen,” katanya.
Direktur Regional Asia Tenggara Tropical Forest Alliance (World Economic Forum), Rizal Algamar mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari luas area hutan.
“Yang terpenting adalah kesehatan ekosistem dan komunitas di sekitarnya. Karena itu, kita perlu terlibat sejak awal, bersama masyarakat, LSM, dan pemimpin lokal. Legitimasi sejati berakar pada inklusi dan kepemilikan bersama,” ujarnya.
Kombinasi kebijakan pemerintah, keterlibatan masyarakat, dukungan teknologi, serta kontribusi sektor swasta menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi krisis deforestasi.
Kolaborasi lintas sektor ini diyakini dapat menjaga hutan tropis tetap lestari sekaligus memulihkan kawasan yang rusak, sehingga manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Elim-Sritaba-1-11092025.jpg)