Selasa, 9 Juni 2026

Beras Oplosan

Pengakuan Warga yang Konsumsi Diduga Beras Oplosan: Rasanya Aneh, Kenyal Seperti Plastik

Warga Banyuasin temukan beras kemasan diduga oplosan. Teksturnya kenyal seperti plastik, bentuknya berbeda dari beras asli.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Glery Lazuardi
Freepik
ILUSTRASI BERAS - Warga Banyuasin menunjukkan beras kemasan yang diduga oplosan. Teksturnya kenyal seperti plastik, bentuknya berbeda dari beras asli. 

Pernyataan ini sekaligus membantah bahwa kenaikan harga komoditas primer itu bukan karena minimnya produksi. 

Ia memberi contoh soal minyak goreng; meskipun Indonesia adalah salah satu produsen terbesar di dunia, harganya tetap bisa naik. 

Begitu pula dengan ayam dan telur, padahal Indonesia sudah swasembada bahkan ekspor, tetapi tetap saja harganya bisa bergerak naik. 

Amran menyebutkan bahwa kenaikan harga beras kali ini bukan karena produksi yang kurang, melainkan karena adanya anomali atau kejanggalan di pasar. 

“Ada yang mengatakan bahwasannya ini produksi kurang. Terus bagaimana dengan minyak goreng? Aku tanya, minyak goreng adalah kita produksi terbesar dunia, kenapa naik? Ayam, telur kenapa naik? Kita sudah swasembada, kita ekspor, artinya ini ada anomali,” ucapnya. 

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. 

Amran menyebut salah satu langkah yang dilakukan adalah operasi pasar secara besar-besaran. 

Operasi pasar ini difokuskan pada daerah-daerah yang harga berasnya paling tinggi. 

Ia menyebut langkah tersebut bukan hanya dilakukan oleh Kementerian Pertanian, tetapi juga melibatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) hingga Kementerian Perdagangan (Kemendag). 

“Anomali ini kita perbaiki bersama. Caranya memperbaiki kalau khusus beras, itu kita operasi pasar besar-besaran. Kemudian kita fokus pada daerah yang harganya tinggi. Itu dilakukan oleh Bapanas, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian,” lanjut Amran.

Beras Oplosan dan Ciri-Cirinya 

Ahli Teknologi Industri Pertanian, IPB University, Profesor Tajuddin Bantacut, menuturkan, secara harfiah, beras oplosan berarti beras yang dicampur dengan bahan lain.

“Jadi, oplos itu tidak selalu bermakna negatif, seharusnya demikian, tetapi dalam konteks bahasa kita, artinya negatif,” ujar Tajuddin saat dihubungi Kompas.com, Minggu (12/7/2025). 

Ia membeberkan tiga jenis pencampuran (oplos) dalam konteks beras yang memiliki makna berbeda. Pertama, beras campur (mixed rice).

Dalam hal ini, beras dicampur dengan bahan atau jenis karbohidrat lain, seperti jagung, hingga menghasilkan produk bernama beras jagung.

“Jadi, walau tanpa menggunakan beras, hanya gilingan kasar jagung, bisa disebut dengan beras jagung karena digunakan untuk ditanak dan dimakan,” jelas dia. 

Jenis beras oplosan selanjutnya adalah campuran beberapa jenis beras (blended rice).

Istilah ini merujuk pada beras yang dicampur dengan jenis beras lain. 

Meski demikian, orientasinya tidak buruk karena bertujuan memperbaiki kualitas beras.

Contohnya, jenis beras jasmin yang dihasilkan dari campuran beras dan menir jasmin untuk mendapatkan aroma dan tekstur lebih baik daripada beras biasa. 

“Atau beras rojolele, beras pandan wangi. Ya karena mahal, teksturnya, aromanya, rasanya bagus. Maka ditambahkan menirnya ke beras yang biasa sehinga teksturnya masih bagus, sesuai dengan keinginan,” jelas Tajuddin.

“Nah, ini tidak menurunkan kualitas ya, tapi dia menjadi special rice. Yang mungkin dipersoalkan sekarang adalah beras yang dipalsukan,” sambung dia. 

Terakhir, ada jenis beras oplosan atau beras yang dipalsukan merujuk pada beras yang dicampur dengan bahan lain, yang tidak seharusnya ada dalam beras asli.

Misalnya, beras plastik yang juga sempat ramai dibicarakan beberapa tahun lalu, atau jenis beras berkualitas rendah, yang seharusnya tidak diklaim dengan mutu baik pada kemasannya.

“Itu disebut dengan oplosan. Diklaim, tetapi ditambahkan bahan lain atau bahan atau beras dengan kualitas yang lebih rendah, tapi diklaim dengan kualitas yang baik,” ungkap dia. 

Menurut Tajuddin, beras yang dipalsukan seharusnya terlihat secara kasat mata. Ciri-ciri beras oplosan dapat dilihat dari warna, bau, dan teksturnya.

Ia tidak menjelaskan secara rinci warna, bau, dan tekstur beras oplosan. Namun, seharusnya, kata Tajuddin, tiga hal ini kontras terlihat dibandingkan beras asli. 

“Setelah kita beli, buka di rumah, ya kemudian diperiksa kan secara visual warnanya, setelah dimasak terlihat teksturnya, kemudian ada baunya kan, baru dicuci mungkin ada yang mengambang atau ada yang terasa tidak seperti beras,” jelas Tajuddin.  

Beras seharusnya berbau normal, tidak menyengat. Warnanya juga putih natural, bukan putih terang atau terlau putih.

Jika menemukan beras yang dicampur dengan bahan lain (bukan beras), lalu penulisan keterangan pada kemasan tidak sesuai dengan kualitas beras yang didapat, beras tersebut bahkan dapat dikatakan penipuan.

“Bukan disebut oplosan, tetapi dia adalah pemalsuan atau penipuan,” tegasnya. 

Opsi Lebih lanjut, perbedaan beras asli dan beras oplosan bisa dilihat dari lama penyimpanan beras di rumah. Beras asli seharusnya tidak tahan disimpan berbulan-bulan tanpa mengundang kutu beras.

Meski penyimpanannya sesuai standar di dalam wadah kedap udara, kutu beras tetap akan muncul. Sebaliknya, beras oplosan dapat disimpan berbulan-bulan tanpa menimbulkan kutu beras. Bahkan, nasi dari beras oplosan tahan basi hingga tiga hari.

“Kalau saya sarankan ke masyarakat, mulai sekarang, jangan (beli) beras yang terlalu putih karena beras yang masih biasa, masih mengandung dedak, terdapat nutrisi-nutrisi yang bagus untuk makanan baik, seperti yang dilakukan di negara-negara maju,“ pungkas dia. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Apa Itu Beras Oplosan dan Bagaimana Cirinya?"

Artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com dengan judul BREAKING NEWS: Diduga Beras Oplosan Ditemukan di Banyuasin, Warga : Rasanya Seperti Plastik 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved