AJI Surabaya dan PFI Surabaya Respons Dugaan Penghalangan Kerja Jurnalis di Ponpes Al Khoziny
AJI Surabaya dan PFI Surabaya bersuara soal dugaan penghalangan-halangan kerja jurnalis di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur
AJI dan PFI sebagai organisasi profesi jurnalis berpendapat bahwa kerja-kerja jurnalistik yang empatik dan profesional dalam situasi krisis akan justru membantu publik memperoleh informasi yang benar, sekaligus memastikan para korban dan keluarga korban terlindungi hak-haknya.
Seperti diketahui, peristiwa ambruknya bangunan musala terjadi pada Senin, 29 September 2025 sekitar pukul 14.40 WIB saat lebih dari 100 santri sedang melaksanakan salat Ashar berjamaah.
Bangunan musala tersebut baru saja dilakukan pengecoran di lantai atas dan masih dalam tahap renovasi.
Terkini total korban yang telah dievakuasi mencapai 102 orang.
Tiga santri dilaporkan meninggal dunia: Mochammad Mashudulhaq (14) dari Surabaya, Muhammad Soleh (22) dari Bangka Belitung, Maulana Alfan Abrahimafic (15).
Sebanyak 77 korban luka-luka dirawat di berbagai rumah sakit: RSUD Sidoarjo 34 orang, RS Siti Hajar 38 orang, RS Delta Surya 4 orang.
Baca juga: Ambruknya Gedung Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Disorot 4 Media Internasional
Tim SAR gabungan masih mencari 38 santri yang diduga terjebak di bawah reruntuhan.
Evakuasi dilakukan secara manual karena penggunaan alat berat berisiko memperparah kerusakan.
Beberapa korban berhasil bertahan hidup selama tiga hari di bawah reruntuhan dan telah dievakuasi dalam kondisi lemas.
BNPB menyebut insiden ini sebagai bencana kegagalan teknologi akibat konstruksi yang tidak memenuhi standar keselamatan.
Bangunan tiga lantai tersebut baru saja dicor dan belum sepenuhnya selesai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/musala-Ponpes-Al-Khoziny-di-Buduran-Sidoarjo-ambruk-kolase-4.jpg)