Jumat, 8 Mei 2026

Karyawan Ceritakan Kondisi Setelah PHK Massal di Pabrik Sepatu Nike Tangerang

Ribuan karyawan pabrik sepatu Nike di Tangerang di-PHK massal, suasana pabrik dan warung sekitar kini berubah drastis.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
TribunBanten.com/Ade Feri Anggariawan
PHK MASSAL PABRIK SEPATU - Suasana pabrik sepatu Nike di Tangerang tampak lebih sepi usai ribuan karyawan PT Victory Chingluh Indonesia di-PHK massal. 
Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 2.200 karyawan PT Victory Chingluh Indonesia di Tangerang di-PHK massal akibat berkurangnya pesanan produksi.
  • Mayoritas korban PHK berasal dari departemen produksi, dengan sistem pengajuan sukarela dan pesangon dua kali lipat gaji.
  • Suasana pabrik dan warung sekitar mendadak sepi, menyisakan cerita kehilangan di kalangan pekerja lama dan pedagang kecil.

TRIBUNNEWS.COM -  Ribuan karyawan PT Victory Chingluh Indonesia di Tangerang menceritakan suasana pabrik sepatu Nike setelah gelombang PHK massal. 

Sebanyak 2.200 pekerja diberhentikan, mayoritas dari departemen produksi, membuat area kerja dan warung sekitar pabrik mendadak sepi. 

PT Victory Chingluh Indonesia adalah pabrik sepatu yang memproduksi untuk merek global, Nike. 

Pabrik ini merupakan bagian dari grup Ching Luh. Grup bisnis ini juga memiliki pabrik serupa di Cikupa, Tangerang.

Ini bukan kali pertama Victory Chingluh Indonesia melakukan PHK massal pada 2025.

Diungkapkan serikat pekerjanya, perusahaan ini akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atas sekitar 3.000 orang karyawannya.

Gelombang PHK tahun 2025 ini sekitar 2.200 karyawan.

Jumlah itu terbilang lebih banyak jika dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah sekitar 1.900 karyawan.

Baca juga: KSPSI Desak Produsen Ban Michelin Batalkan Rencana PHK Buruh

Suasana di Lokasi Pabrik Sepatu

Berdasarkan pantauan TribunBanten.com, pada Jumat (31/10/2025) pukul 11.30 atau saat jam istirahat karyawan, nampak suasana di warung di sekitar area pabrik cenderung lebih sepi dibandingkan sebelum adanya gelombang PHK.

Puluhan karyawan yang mengenakan kartu pengenal dengan tali beragam corak warna dan bertuliskan 'JV', nampak mendatangi warung untuk sekedar beristirahat, sembari membeli beragam jajanan makanan dan minuman dari para penjual di sekitar area pabrik.

Obrolan seputar gelombang PHK pun turut menghiasi ruang percakapan mereka.

"Kamu kemaren gak ngajuin (PHK)?," tanya seorang karyawan, yang didengar oleh jurnalis TribunBanten.com, di salah satu warung.

"Enggak, saya cuma diliburin aja kemaren dua minggu. Ibu saya yang ngajuin mah," timpal karyawan lainnya.

Mekanisme PHK Karyawan Pabrik Sepatu

Setelah ditelusuri, terungkap bahwa dalam mekanisme PHK di PT Victory Chingluh Indonesia dilakukan berdasarkan sistem pengajuan oleh karyawan yang berkenan.

Rata-rata karyawan yang di-PHK merupakan karyawan yang telah lebih dari sepuluh tahun bekerja, atau karyawan yang memang sudah tidak lagi memiliki semangat bekerja.

"Kalau di sini mah sistem nya ngajuin, jadi kalau karyawannya gak mau (di PHK) ya dia masih bisa masuk. Paling cuma dipindah ke departemen lain," kata salah satu karyawan bernama Muhlin.

Menurutnya, meski gelombang PHK di tempatnya bekerja terjadi secara besar-besaran, namun mayoritas dari mereka justru merasa senang.

"Soalnya kan pertama sistemnya pengajuan, terus ketika mereka kemaren di PHK mereka dapet dua PMTK, atau dua kali lipat gaji yang dikalikan lama bekerja," ucapnya.

"Misal dia kerja 10 tahun, nah itu dapatnya bisa ratusan juta. Soalnya gaji sekarang kan 5 juta dikali dua, terus dikali 10 tahun. Terus ditambah lagi sama uang apresiasi dan uang jamsostek," jelasnya.

Baca juga: Satu Tahun Prabowo-Gibran, Partai Buruh Singgung Gelombang PHK Meningkat dan Korupsi di Kemnaker

Cerita Karyawan

Muhlin bilang, dari ribuan karyawan yang di-PHK mayoritas merupakan karyawan yang bekerja di departemen produksi.

"Kalau di departemen lain itu ada cuma gak banyak, karena ada juga yang ditawarin dan dia mau," ungkapnya.

Sementara itu, Rudi pemilik warung di sekitar pabrik mengatakan, akibat gelombang PHK itu, dirinya mengalami penurunan pendapatan meskipun tidak signifikan.

"Dua hari ini agak lebih sepi sih, biasanya jam istirahat itu penuh semua," katanya.

Ahmad (27), salah satu karyawan yang mengaku bekerja di departemen sablon di PT Victory Chingluh.

Ia mengatakan, adanya gelombang PHK tersebut membuat suasana di departemen nya menjadi jauh lebih sepi dibandingkan biasanya.

"Dulu kan di line (istilah untuk satu tim di pabrik) saya jumlahnya ada puluhan orang, tapi sekarang cuma sisa kami bertiga aja," katanya kepada TribunBanten.com, Jumat (31/10/2025).

Menurutnya, meski tidak ada beban kerja tambahan, namun kehilangan teman kerja yang sudah bertahun-tahun bersama menyisakan kerinduan tersendiri.

"Kalau beban kerja gak nambah, cuma itu tadi jadi kehilangan teman tongkrongan," ucapnya.

Ia menjelaskan, sebelum di PHK para teman-temannya lebih dulu diliburkan selama dua pekan.

"Abis libur itu, baru lah karyawan nyerahin penang (id card karyawan) ke HRD," kata Ahmad.

Ditanya soal informasi yang sampai di karyawan terkait alasan PHK, Ahmad menyebut akibat pesanan berkurang.

"Katanya sih karena orderan di departemen itu berkurang, sama mereka juga mungkin udah jenuh atau udah pengen cari usaha lain. Karena kan mereka yang di PHK itu sistemnya ada yang ditawarin ada juga tang ngajuin penawaran," tandasnya.

Artikel ini telah tayang di TribunBanten.com

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved