Banjir Bandang di Sumatera
Dedy Irawan: Bantu Korban Banjir, Jangan Tambah Luka dengan Fitnah dan Propaganda
Dedy Irawan, SP, M.Si, menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ringkasan Berita:
- Banjir besar melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sejak 24–28 November 2025
- Total korban akibat banjir di tiga provinsi itu mencapai 174 orang meninggal dan lebih dari 12.546 keluarga mengungsi.
- Dedy Irawan menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir dan meminta semua pihak menjauhi hoaks.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris DPW PAN Sumatera Utara yang juga Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dedy Irawan, SP, M.Si, menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dedy Irawan menegaskan bahwa fokus seluruh pihak saat ini harus diarahkan pada upaya penyelamatan warga dan pemulihan kawasan terdampak.
Dedy meminta agar para relawan, masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan seluruh kader Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia bergerak membantu korban banjir tanpa henti.
“Korban banjir membutuhkan pertolongan nyata bukan wacana, bukan perdebatan. Ini waktu kita bekerja bersama membantu warga yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan anggota keluarga,” ujar Dedy di Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Jumlah korban banjir
Banjir besar melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sejak 24–28 November 2025, menimbulkan korban jiwa ratusan orang dan ribuan pengungsi.
Total korban akibat banjir di tiga provinsi itu mencapai 174 orang meninggal dan lebih dari 12.546 keluarga mengungsi.
Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banjir.
Bibit siklon tropis 95B di Selat Malaka memicu hujan deras berhari-hari.
Bantah isu hoaks
Menanggapi isu yang beredar di ruang digital yang menyebut Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan sebagai “penyebab banjir” di Aceh, Sumut, dan Sumbar, dia mengatakan asumsi yang disebarkan sejumlah akun tidak jelas identitasnya.
Isu tersebut banyak muncul di platform daring dan disebarkan akun-akun anonim dalam pola yang terkesan terkoordinasi.
“Kami melihat banyak akun bodong menyebarkan propaganda yang menyesatkan dengan menyalahkan Pak Zulkifli Hasan atas bencana banjir. Ini tuduhan tidak berdasar, tidak logis, dan sangat tidak etis di tengah masyarakat yang sedang berduka,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa bencana alam berskala besar seperti ini dipengaruhi faktor cuaca ekstrem, topografi, kerentanan lingkungan, dan dinamika meteorologis, jangan diarahkan ke hal hal yang politis apalagi cendrung kepada fitnah dan penyebaran informasi hoaks.
“Masyarakat sedang dalam keadaan sulit. Jangan tambah beban mereka dengan hoaks dan fitnah. Banjir ini adalah fenomena alam yang harus dihadapi dengan kerja bersama, bukan dijadikan panggung untuk membangun sentimen negatif,” tambahnya.
Dedy Irawan menekankan pentingnya menjaga ruang digital tetap sehat selama masa tanggap darurat bencana.
Menurutnya, penyebaran hoaks justru mengalihkan perhatian dari hal-hal yang lebih mendesak, seperti evakuasi, distribusi bantuan, dan perlindungan warga rentan.
“Ini bukan saatnya melakukan perang narasi. Ini saatnya gotong royong dan mengutamakan kemanusiaan. Jagalah ruang publik kita dari provokasi dan disinformasi,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Dedy-Irawan-SP-MSi.jpg)