Banjir Bandang di Sumatera
Sosok Jonius TP Hutabarat, Bupati Taput Lempar Beras Bantuan dari Heli, Aksinya Dikomentari Puan
Bupati Tapanuli Utara, Jonius TP Hutabarat yang melempar bantuan beras dari helikopter akhirnya meminta maaf. Aksinya dikomentari Puan Maharani.
Ringkasan Berita:
- Video warga korban banjir memunguti beras bantuan yang dilempar dari helikopter, viral di media sosial.
- Peristiwa itu mendapat respons dari Ketua DPR RI, Puan Maharani.
- Bupati Tapanuli Utara yang melempar bantuan itu dari helikopter akhirnya meminta maaf.
TRIBUNNEWS.COM - Bupati Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara, Jonius Taripar Parsaoran (TP) Hutabarat meminta maaf karena melempar beras bantuan dari helikopter.
Akibatnya, beras bantuan banjir itu rusak dan bercampur tanah.
Video saat warga terdampak bencana banjir memunguti beras bantuan yang sudah tercampur tanah itu sempat viral di media sosial.
Kejadian itu bahkan dikomentari Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Menurut Puan, cara penyaluran yang tidak baik itu harus dievaluasi.
"Bahwa memang banyak sekali wilayah yang jalurnya itu terputus, jadi dilakukan melalui udara, namun kemudian cara pemberiannya mungkin dianggap kurang efektif atau kurang baik."
"Karena itu juga perlu dievaluasi yang sebaik-baiknya," kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Puan mengingatkan agar bantuan logistik yang diberikan untuk korban banjir tersalurkan dengan baik dan bisa dimanfaatkan.
Oleh sebab itu, harus dipikirkan cara untuk menyalurkan logistik di tengah masih banyaknya akses jalan yang terputus.
"Jangan sampai bantuan yang datang pun kemudian tidak bisa bermanfaat bagi para korban."
"Jadi ini yang sebaiknya kita pikirkan langkah-langkah yang terbaik bagi masyarakat yang terdampak, bagi wilayah yang terkena terkena bencana tersebut," tandasnya.
Baca juga: Bareskrim Mulai Selidiki Kayu Gelondongan, 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir Sumatera
Sosok Jonius Taripar Parsaoran
Jonius Taripar Parsaoran lahir di Tarutung, Sumatra Utara pada 26 Februari 1975. Usianya saat ini 50 tahun.
Pria yang berdomisili di Tapanuli Utara itu merupakan lulusan Universitas Sumatra Utara (USU).
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana-nya di USU pada 1999, melansir Tribun-Medan.com.
Jonius kemudian melanjutkan ke jenjang magister dan lulus pada 2009 di kampus yang sama.
Selanjutnya, Jonius meraih gelar dokter di almamater yang sama pada 2017.
Sebelum terjun ke dunia politik, dia sempat menjabat sebagai Kapolres Tapanuli Utara, 2017-2018.
Namun, ia mengundurkan diri dari jabatan itu, dan mengawali karier politiknya.
Dia kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatra Utara, 2019-2024.
Kariernya makin moncer setelah ia terpilih sebagai Bupati Tapanuli Utara pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.
Ia bersama wakilnya nomor urut 2, Deni Parlindungan Lumbantoruan berhasil mendulang 105.505 suara atau 64,07 persen, mengguguli pasangan 01 dengan 58.643 persen suara.
Pasangan 01, Satika Simamora dan Sarlandy Hutabara sempat menggugat hasil Pilkada ke Mahkamah Konstitus atas dugaan pelanggaran terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).
Namun, gugatan itu ditolak, sehingga kemangan Jonius dan Deni tetap sah.
Bupati Taput Minta Maaf
Baca juga: Kondisi Aceh-Sumut: Warga Punguti Beras yang Dilempar dari Helikopter, Terpaksa Minum Air Banjir
Buntut aksinya melempar beras bantuan dari helikopter viral di media sosial, Jonius meminta maaf.
Permintaan maaf orang nomor satu di Tapanuli Utara itu disampaikan melalui sebuah video.
"Saya Bupati Tapanuli Utara, bersama pilot, kami pertama-tama meminta maaf kepada seluruh masyarakat Tapanuli Utara."
"Secara khusus masyarakat yang ada di Desa Manalu Purba, tepatnya di Hajorang," ujar Jonius dalam sebuah video, dikutip dari Kompas.com.
Jonius menjelaskan, kejadian bermula saat dia dan rombongan Tim SAR Gabungan mendistribusikan bantuan logistik melalui helikopter.
Mereka mendistribusikan bantuan ke desa terpencil dan terisolir akibat banjir di Taput.
Pihaknya sudah melakukan penerbangan untuk mendistribusikan logistik sebanyak tujuh kali penerbangan.
"Kami lakukan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang masih belum bisa kita jangkau dengan jalan darat," ujarnya dalam video.
Lalu tibalah mereka di Kecamatan Hajoran, saat itu mereka hendak mendarat di sebuah sekolah.
Namun, terjadi kendala, lantaran adanya kabel di sekitar lokasi pendaratan.
"Saya mengajak pilot untuk mendarat di sekolah, kemudian pilot mencari (tempat) untuk bisa mendarat," ujarnya.
Akan tetapi pada ketinggian lebih kurang 10 sampai 15 meter, pendaratan terhambat karena ada kabel listrik.
"Sehingga pilot menyarankan untuk tidak mendarat dan masyarakat sudah berkumpul di bawah," ujar Jonius.
Tak ingin masyarakat kecewa, Jonius berusaha tetap menurunkan bantuan beras dari helikopter.
"Kami menurunkan tidak lebih dari 10 (karung) mungkin. Saat kami melihat ke bawah, mereka bilang sudah ada yang rusak. Dan waktu itu memang saat kita keluarkan ada indomie, Indomie nya langsung berserak (berhamburan)," ungkapnya.
Lantaran kerusakan logistik akibat diturunkan dari helikopter, pilot mencoba mencari lokasi pendaratan di landasan yang baru di sekitar lokasi.
"Nah tidak jauh dari situ, kami melihat ada landasan, yaitu ada kebun dan kami mencoba mendarat di sana. Setelah itu kami mendarat dengan ketinggian hanya sekitar 1 meter dari tanah," jelas dia.
Pihaknya lantas mengeluarkan semua bantuan dari helikopter tersebut dan kemudian diserahkan kepada warga.
Kendati demikian, pihaknya tetap meminta maaf atas insiden yang terjadi. Ia menyatakan semua bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Sosok dan Harta Jonius TP Hutabarat Bupati Terpilih Tapanuli Utara, Mundur dari Polri Terjun Politik
(Tribunnews.com/Nanda Lusiana/Chaerul Umam, Tribun-Medan.com/Istiqomah Kaloko, Kompas.com/Rahmat Utomo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kolase-Korban-Banjir-di-Tapanuli-Utara-Pungut-Beras.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.