Senin, 8 Juni 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Tembus Jalan Rusak dan Berlumpur, Tim Medis Unhas Jangkau Korban Bencana di Aceh Tengah

Tim Medis Unhas berjumlah sembilan orang, terdiri dari dokter spesialis, dokter residen, serta mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran. 

Tayang:
Penulis: Reza Deni
HO/IST
ACEH TENGAH: Potret Tim Medis Universitas Hasanuddin (Unhas) saat berada di wilayah-wilayah paling terisolasi di Kabupaten Aceh Tengah. Mereka berada di sana selama kurang lebih delapan hari/HO-UNHS 

Ringkasan Berita:
  • Tim Medis Universitas Hasanuddin (Unhas) selama delapan hari menjangkau korban banjir bandang dan longsor di wilayah terisolasi Kabupaten Aceh Tengah
  • Tim ini terdiri dari dokter spesialis, residen, dan mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran.
  • Tim membuka enam pos kesehatan, melayani 144 warga, serta memberikan dukungan psikososial berupa trauma healing bagi anak-anak dan kelompok rentan.

TRIBUNNEWS.COM, ACEH TENGAH — Di tengah akses terputus, infrastruktur rusak, dan krisis logistik pascabencana banjir bandang serta longsor, Tim Medis Universitas Hasanuddin (Unhas) menjangkau korban di wilayah-wilayah paling terisolasi di Kabupaten Aceh Tengah

Universitas Hasanuddin (Unhas) adalah perguruan tinggi negeri di Makassar, Sulawesi Selatan, yang berdiri sejak 10 September 1956 dan dikenal sebagai salah satu universitas terbesar serta terkemuka di kawasan timur Indonesia

Selama delapan hari penugasan, tim ini menjangkau sejumlah desa terpencil yang belum tersentuh layanan kesehatan sejak bencana terjadi.

"Misi ini merupakan wujud tanggung jawab kemanusiaan dan akademik Unhas melalui program pengabdian kepada masyarakat Tanggap Darurat Bencana Wilayah Aceh dan Sumatera yang dikoordinasikan oleh LPPM Unhas dengan dukungan Kemendiktisaintek," ujar Muhammad Phetrus Johan selaku Ketua Tim Medis Universitas Hasanuddin, dalam pesan yang diterima, Rabu (24/12/2025).

Tim Medis Unhas berjumlah sembilan orang, terdiri dari dokter spesialis, dokter residen, serta mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran. 

Mereka tiba di Aceh Tengah pada 16 Desember 2025 dan langsung berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Aceh Tengah serta Dinas Kesehatan setempat. 

Dari hasil koordinasi, tim diarahkan ke wilayah kerja Puskesmas Ketapang, Kecamatan Linge, salah satu kawasan dengan dampak bencana terberat.

Untuk mencapai Desa Jamat dan desa-desa di sekitarnya, tim harus menempuh perjalanan darat hingga tujuh jam melalui jalur rusak dan berlumpur.  Wilayah ini dilaporkan hampir tiga pekan tidak mendapatkan layanan kesehatan pascabencana. 

Warga mengeluhkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, gangguan pencernaan, hingga nyeri otot akibat aktivitas berat dan buruknya kondisi lingkungan. Krisis air bersih turut memperparah situasi kesehatan masyarakat.

"Kami menyadari bahwa di balik angka dan laporan kerusakan, ada warga yang menahan sakit, anak-anak yang mengalami trauma, dan keluarga yang bertahan dalam keterbatasan. Karena itu, fokus kami tidak hanya pada pelayanan medis dasar, tetapi juga pada pemetaan masalah kesehatan pascabencana serta pemberian dukungan psikososial, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan," kata Phetrus.

Medan ekstrem

Medan yang lebih ekstrem dihadapi saat tim menjangkau Desa Reje Payung dan Desa Linge. Kedua desa tersebut terisolasi total tanpa akses kendaraan bermotor. 

Untuk mencapai Desa Reje Payung, tim harus menyeberangi sungai berarus deras menggunakan tali serta melintasi medan berat. 

Selain Kecamatan Linge, Tim Medis Unhas juga menjangkau Desa Kalasegi dan Bamil Nosar di Kecamatan Bintang, Desa Gunung Suku di Kecamatan Lut Tawar, serta Desa Bergang–Karang Ampar di Kecamatan Ketol. 

Di Desa Bergang, tim harus berjalan kaki sejauh enam kilometer melewati perbukitan terjal dan menyeberangi sungai setinggi enam meter menggunakan jembatan bambu darurat. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved