Selasa, 14 April 2026

Ketua BEM UGM Diteror

Ketua BEM UGM Diteror oleh Nomor dari Inggris Raya, Pesan Teror: Agen Asing, Culik Mau?

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto mengatakan teror pesan singkat yang diterimanya berbahasa Indonesia tapi nomornya dari Inggris Raya.

Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
RENTETAN TEROR - Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menyampaikan orasi dalam aksi Karaoke WNI Mumet yang digelar oleh Komunitas Suara Ibu Indonesia di Yogyakarta di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026). Tiyo mendapat rentetan teror setelah pengiriman surat Ironi Tanah Air ke UNICEF. Tiyo Ardianto mengatakan teror pesan singkat yang diterimanya berbahasa Indonesia tapi nomornya dari Inggris Raya. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto bicara soal teror yang diterimanya.
  • Pertama kali, teror itu diterima Tiyo Ardianto pada Senin (9/2/2026).
  • Teror tersebut masuk ke pesan WhatsApp miliknya dari nomor yang sama, namun dikirim beda-beda waktu.
  • Nomor yang tertera berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan dengan Bahasa Indonesia.

 

TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto bicara soal teror yang diterimanya.

Bermula masuknya pesan WhatsApp dari nomor asing ke gawai milik Tiyo Ardianto. 

Nomor yang tertera berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan dengan Bahasa Indonesia.

Pesan tersebut masuk terus-menerus, di antaranya berbunyi: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda.

Baca juga: UGM Berikan Perlindungan bagi Ketua BEM Tiyo Ardianto yang Diteror dan Dikuntit Orang Berbadan Tegap

Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026), teror berlanjut namun tidak ditanggapi.

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.

Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.

 

Teror Bermula dari Kirim Surat ke UNICEF 

Tiyo menceritakan teror itu diterima pasca BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026).

Surat tentang 'ketidaktahuan' Presiden RI

Surat itu dikirimkan karena melihat ironi di tanah air. 

Kala seorang anak di Ngada, NTT memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku, negara menggelontorkan Rp 16,7 triliun untuk iuran pda Board of Peace (BoP). 

Pemerintah juga menggelontorkan dana Rp 1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved