Pesantren Darul Falah Ponorogo Siapkan Santri untuk Era Digital
Pesantren Darul Falah Ponorogo luncurkan One Santri One Tablet, padukan e-Kitab dan literasi digital modern.
Ringkasan Berita:
- Pesantren Darul Falah Ponorogo meluncurkan program “One Santri One Tablet” untuk memadukan pendalaman ilmu agama dengan literasi digital
- Melalui fitur e-Kitab Kuning, e-learning, dan asesmen digital, santri belajar secara modern tanpa meninggalkan tradisi pesantren
- Inisiatif ini membuktikan bahwa pendidikan asrama dapat tetap religius, adaptif terhadap teknologi, dan relevan di era AI.
TRIBUNNEWS.COM, PONOROGO – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital, dunia pesantren kerap dipandang sebagai institusi yang menjaga jarak dengan teknologi.
Namun, Pesantren Darul Falah Ponorogo Jawa Timur memecahkan stigma tersebut dengan meluncurkan inisiatif visioner: program "One Santri One Tablet".
Langkah ini bukan sekadar tentang pemberian perangkat elektronik, melainkan upaya serius dalam mengintegrasikan nilai-nilai luhur pesantren dengan literasi digital tingkat lanjut.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa santri masa kini harus memiliki dua bekal utama: kedalaman ilmu agama dan ketangkasan mengoperasikan teknologi masa depan.
Digitalisasi yang Menjaga Tradisi
Inti dari inovasi ini terletak pada ekosistem pembelajaran yang tertanam di dalam setiap perangkat tablet santri. Fitur-fitur unggulan yang dihadirkan meliputi:
1. e-Kitab Kuning: Digitalisasi kitab-kitab klasik yang memungkinkan santri melakukan pencarian teks dan referensi lebih cepat tanpa kehilangan esensi kajian kitab gundul.
2. e-Learning & Video Pembelajaran: Materi kurikulum nasional dan kepesantrenan disajikan dalam bentuk multimedia interaktif, membuat proses belajar menjadi jauh dari kata membosankan.
3. Asesmen Digital: Pelaksanaan ujian berbasis digital yang melatih kemandirian, akurasi, dan adaptasi santri terhadap sistem seleksi modern.
Solusi "Mondok Tanpa Takut Ketinggalan Zaman"
Inovasi ini menjawab kekhawatiran terbesar orang tua di era modern: rasa takut jika anak mereka akan tertinggal secara digital (digital gap) saat menempuh pendidikan di asrama. Melalui program ini, Pesantren Darul Falah membuktikan bahwa kehidupan asrama bisa menjadi sangat dinamis dan eksploratif.
"Kami ingin menghapus pandangan bahwa mondok berarti terputus dari dunia luar. Di sini, tablet menjadi jendela ilmu. Santri tidak hanya pandai mengaji, tapi juga mahir menggunakan teknologi untuk dakwah dan pendidikan. Belajar pun menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tidak membosankan," ungkap Gus Riza Arif Achmadi, pengelola Pesantren Darul Falah.
Inspirasi bagi Pendidikan Nasional
Keberhasilan Pesantren Darul Falah dalam memadukan e-kitab dengan kurikulum modern menjadi model baru bagi konsep Digital Boarding School di Indonesia.
Dengan lingkungan yang terkendali dan penggunaan teknologi yang terarah, santri dididik menjadi subjek teknologi, bukan sekadar objek konsumsi digital.
Langkah inovatif ini kian mempertegas posisi Darul Falah sebagai destinasi pendidikan yang seimbang. Bagi masyarakat yang mendambakan anak-anaknya memiliki akhlakul karimah sekaligus penguasaan teknologi, pesan dari Ponorogo ini cukup sederhana namun mendalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pesantren-Darul-Falah-Ponorogo-Jawa-Timur.jpg)