Pelajar Tewas di Maluku
Pelajar Dibunuh Brimob saat Ramadan, Tom Lembong Berduka: Terlalu Sedih, Terlalu Pilu
Mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong sangat sedih atas kematian pelajar yang dianiaya anggota Brimob di Maluku.
Ringkasan Berita:
- Tom Lembong berduka atas kematian AT, pelajar yang dianiaya anggota Brimob.
- Menurut Tom Lembong, di Indonesia sedang terjadi kesewenang-wenangan.
- Dia berharap aparat penegak hukum berkiblat kepada profesionalisme.
TRIBUNNEWS.COM – Mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong mengungkapkan belasungkawanya atas kematian AT (14), pelajar di Kota Tual, Maluku, yang dianiaya oleh seorang anggota Brimob.
Lewat unggahan di akun Instagram miliknya, Minggu, (22/2/2026), Tom mengungkapkan kesedihannya yang mendalam. Tom mengunggah foto mendiang AT yang sedang tersenyum sembari mengenakan peci dan baju koko putih
“Terlalu sakit, terlalu pilu, memikirkan tragedi yang menimpa AT, murid usia 14 tahun yang dibunuh oleh seorang oknum Brimob,” kata Tom dalam keterangan unggahannya.
Sahabat mantan capres Anies Baswedan itu menilai di Indonesia sedang terjadi tren kesewenang-wenangan.
“Ibu-Bapak yang saya cintai, tren kesewenang-wenangan sudah mencapai sebuah titik di mana kita harus berkaca: kita ingin dikenal sebagai bangsa dengan budaya seperti apa? Apakah di mata Tuhan Allah dan di mata dunia, kita ingin dikenal dikenang sebagai masyarakat yang beringas dan liar?” tulis Tom.
Meski telah terjadi kekerasan yang melibatkan polisi, Tom mengaku tetap yakin bahwa sebagian besar aparat di tanah air adalah pribadi yang baik.
Namun, adanya kasus kekerasan oleh aparat menjadi peringatan keras bahwa profesionalisme harus dikembalikan dan menjadi kiblat bagi penegak hukum.
Tragedi yang menimpa AT mengingatkan Tom kepada masa-masa ketika dia ditahan dalam kasus korupsi impor gula. Tom mendapat vonis 4,5 tahun penjara, tetapi dia kemudian bebas setelah mendapat abolisi dari Presiden Prabowo Subianto.
“Kematian AT ini ekstra sedih bagi saya karena tujuh bulan lalu saya sangat terinspirasi diajarkan oleh sesama tahanan di penjara yang beragama Islam tentang makna ‘Tawakal’ di tengah perjuangan saya untuk mengungkap kebenaran dan mendapat keadilan,” ujarnya.
Tom mengaku heran karena kebrutalan anggota Brimob bisa muncul saat bulan Ramadan yang dikenal sebagai bulan suci.
“Tambah heran bahwa kelakuan oknum Brimob ini juga terjadi di bulan suci Ramadan dan di bulan suci pra-Paskah. Saya tidak bisa membayangkan trauma yang dirasakan keluarga AT. Innalilahi wa innailaihi roji’un,” ucap Tom.
Terakhir, Tom beserta keluarganya kembali mengungkapkan belasungkawa kepada keluarga korban. Dia berharap keluarga korban diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi tragedi itu.
Baca juga: Pelajar Dianiaya Brimob, Penasihat Kapolri: Mengadang dengan Memukul Itu Namanya Membunuh
Ketika berita ini ditulis, unggahan Tom telah disukai lebih dari 86 ribu kali, dikomentari 2 ribu kali, dan dibagikan ulang lebih dari 7 ribu kali.
Kronologi penganiayaan
Kepolisian Resor (Polres) Tual, Maluku, membeberkan kronologi dugaan penganiayaan oleh Bripda Masias Siahaya terhadap AT (14) dan NK (15). AT tewas setelah dianiaya, sedangkan NK mengalami patah tulang.
Kapolres Tual Whansi Des Asmoro menjelaskan peristiwa itu bermula saat Masias bersama anggota Brimob Batalyon C Pelopor menggelar patroli cipta kondisi di wilayah Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara pada Kamis dini hari, (19/2/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Mantan-Menteri-Perdagangan-Thomas-Trikasih-Lembong-maluku.jpg)