Gempa di Sulut & Malut
Daerah Terdampak Gempa Bitung dan Tsunami, Minahasa Utara Alami Kenaikan Muka Air
Gempa M 7,6 Bitung picu tsunami di Sulut-Malut. Minahasa Utara tertinggi, warga panik, korban jiwa dan kerusakan dilaporkan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menguraikan, dari pagi hingga pukul 12.00 WIB, sudah ada 93 kali gempa susulan.
"Dengan magnitudo 2,8 hingga 5,8 dan gempa dirasakan berjumlah 7 gempa," katanya dalam konferensi pers.
"Ini frekuensi yang terus kita pantau. Biasanya setelah satu atau dua hari trennya akan kita pelajari apakah akan berakhir satu minggu atau kadang-kadang dua minggu," lanjutnya.
Teuku Faisal melanjutkan, jenis gempa kali ini adalah gempa dangkal yang merusak akibat aktivitas kerak bumi.
"Dan mekanismenya pergerakan naik atau thrust fault," tegasnya.
BMKG mengingatkan bahwa gelombang pertama tsunami tidak selalu menjadi yang terbesar, sehingga masyarakat di wilayah pesisir tetap diminta waspada meski ketinggian air yang tercatat relatif rendah.
BMKG juga menegaskan bahwa waktu tiba gelombang di tiap wilayah dapat berbeda, sehingga warga di kawasan pantai dan muara sungai diminta tidak terburu-buru kembali ke area berisiko sebelum ada pernyataan resmi aman dari otoritas.
Di sisi lain, aktivitas kegempaan masih terus berlangsung. Hasil monitoring BMKG mencatat hingga pukul 06.50 WIB telah terjadi 11 kali gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5.
Dua gempa susulan yang dinilai signifikan terjadi pada pukul 06.07 WIB dengan magnitudo 5,5 dan pukul 06.12 WIB dengan magnitudo 5,2, namun keduanya dinyatakan tidak berpotensi tsunami.
Baca juga: Meski Peringatan Dicabut, Warga Maluku Utara Masih Ketakutan dengan Isu Tsunami Pascagempa M 7,6
BNPB mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.
Warga diminta menjauhi pantai, muara sungai, dan area rendah di pesisir, serta segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi jika merasakan gempa kuat atau menerima peringatan resmi dari otoritas.
Selain itu, masyarakat juga diimbau membantu kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas saat proses evakuasi.
Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan karena berisiko roboh akibat gempa susulan.
Hingga kini, pendataan dampak gempa dan tsunami masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait.
Informasi mengenai jumlah korban, kerusakan, serta kondisi daerah terdampak diperkirakan masih akan terus berkembang.
(Tribunnews.com/Chrysnha, Endra)