Kecelakaan Maut di Musi Rawas Utara
Update Kecelakaan Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara Sumsel, 14 Korban Tewas Teridentifikasi
Belasan korban kecelakaan bus ALS dan truk tangki di Jalan Lintas Sumatra kini berhasil teridentifikasi oleh petugas dan tim medis.
Setelah dilakukan operasi terakhir tanggal 11 Mei yakni operasi pengangkatan jaringan, kondisi pasien memburuk. Kemudian, usai dilakukan proses medis secara intensif, pasien dinyatakan tidak dapat tertolong.
Pada Jumat hari ini, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga dan dipulangkan ke rumah duka, yaitu ke Pati Jawa Tengah.
Jadi, kata Rony, korban meninggal dalam kecelakaan bus ALS dan truk tangki di Sumsel ini berjumlah 19 orang meninggal.
"Jadi dapat kami simpulkan bahwa dengan demikian dari peristiwa kecelakaan tersebut korban meninggal dunia total sebanyak 19 orang, di mana 17 meninggal dunia di TKP dan dua meninggal dunia dalam perawatan medis di rumah sakit," ungkapnya.
Diketahui, kecelakaan berawal ketika Bus ALS yang membawa belasan penumpang melaju dari arah Kota Lubuklinggau.
Sedangkan, truk tangki BBM milik PT Seleraya membawa satu penumpang datang dari arah Muratara menuju Lubuklinggau.
Namun, Bus ALS dari arah Lubuklinggau masuk ke jalur berlawanan.
Akibatnya, bus menabrak mobil tangki Seleraya yang menuju ke arah Lubuklinggau hingga terjadi kebakaran pada kendaraan.
Baca juga: Cegah Kecelakan Bus ALS, Anggota Komisi V DPR Lokot Nasution Usul Penerapan SMK3 di Pool Armada
Indonesia Dinilai Perlu Tiru Jepang soal Keselamatan Jalan
Terkait kecelakaan tersebut, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai Indonesia berada dalam kondisi “darurat keselamatan transportasi jalan”.
Menurutnya, persoalan itu bersifat sistemik karena dipicu lemahnya pengawasan regulasi, perilaku pengguna jalan, hingga pemangkasan anggaran keselamatan transportasi.
“Insiden ini harus menjadi momentum pembenahan serius keselamatan transportasi darat,” kata Djoko kepada Tribunnews, Senin (11/5/2026).
Ia menegaskan, investigasi mendalam oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) penting dilakukan untuk membedah penyebab kecelakaan dari berbagai aspek, mulai faktor manusia, kendaraan, manajemen perusahaan, hingga infrastruktur jalan.
Namun, menurut Djoko, investigasi tidak akan berdampak besar tanpa dukungan kelembagaan dan anggaran yang kuat.
Pemerintah diminta memperkuat kembali otoritas keselamatan transportasi, termasuk menghidupkan Direktorat Keselamatan Jalan di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
Djoko menilai, Indonesia perlu belajar dari Jepang dan sejumlah negara Eropa yang berhasil menekan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas secara drastis.
Salah satu kunci utamanya ialah perubahan paradigma dari menyalahkan pengemudi menjadi memperbaiki sistem secara menyeluruh.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Facundo Chrysnha)