Senin, 18 Mei 2026

Apa Itu Etomidate? Narkotika Diduga Bisnis Kasat Narkoba Polres Kukar, Dijual Rp5 Juta per Botol

Kasat Resnarkoba Polres Kukar KP Yohanes Bonar Adiguna terlibat dalam peredaran zat psikotropika jenis baru, etomidate.

Tayang:
Tribundepok.com/Polres Kukar
KASUS NARKOTIKA - Potret Kasat Resnarkoba Polres Kutai Kartanegara (Kukar), AKP Yohanes Bonar Adiguna (YBA). 

Ringkasan Berita:
  • Kasat Resnarkoba Polres Kukar KP Yohanes Bonar Adiguna terjerat kasus narkoba.
  • AKP Yohanes terlibat dalam peredaran zat psikotropika jenis baru, etomidate.
  • Ia mengedarkan barang haram itu di Kaltim dengan harga kisaran Rp4,5 juta hingga Rp5 juta per botol.

TRIBUNNEWS.COM - Kasus aparat penegak hukum yang justru terjerat dalam penyalahgunaan atau peredaran narkotika kembali mengguncang kepercayaan publik.

Seorang Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Resnarkoba) yang seharusnya memberantas narkoba, justru terjerat kasus yang harsunya menjadi penanganannya.

Sosok tersebut adalah AKP Yohanes Bonar Adiguna, Kasat Resnarkoba Polres Kutai Kartanegara (Kukar).

AKP Yohanes diduga menjalankan bisnis zat psikotropika jenis baru, etomidate.

Ia diduga mengedarkan barang haram itu di Kaltim dengan harga kisaran Rp4,5 juta hingga Rp5 juta per botol.

Lantas apa itu etomidate?

Melansir bnn.go.id, etomidate merupakan senyawa golongan anestesi yang digunakan secara intravena.

Etomidate umumnya digunakan untuk menginduksi dan mempertahankan anestesi selama operasi dan prosedur medis lain yang memerlukan sedasi.

Sedasi adalah teknik pemberian obat penenang untuk menurunkan kesadaran.

Etomidate memberikan efek sedatif, hipnotik, dan relaksasi dengan bekerja pada sistem syaraf pusat hingga dapat menyebabkan kecanduan.

Obat ini, disalahgunakan dengan cara dicampurkan ke dalam cairan rokok elektrik (liquid vape).

Baca juga: Kronologi Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap soal Narkotika, Ngaku Sudah Pakai Setahun

Tren penggunakan vape menggunakan etomidate juga ditemukan di Singapura dan Taiwan.

Di Indonesia, etomidate belum diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika maupun dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Melansir pharmacy.uii.ac.id, etomidate memiliki sejumlah efek samping berbahaya di antaranya:

  • Menghambat enzim 11β-hidroksilase di kelenjar adrenal (Kelenjar adrenal diperlukan untuk sintesis kortisol). Efek ini terjadi bahkan setelah 1x pemberian dan bisa bertahan 6–8 jam, sehingga meningkatkan risiko infeksi dan gangguan metabolik pada pasien kritis. 
  • Sekitar 20–50 persen pasien mengalami nyeri hebat di lokasi suntikan, serta gerakan otot tak terkendali (mioklonus) yang menyerupai kejang.
  • Menyebabkan tekanan darah rendah pada pasien lansia atau cedera kepala berat akibat efek vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), kasus ini jarang terjadi.
  • Dalam produk vape, penggunaan etomidate dapat menurunkan kesadaran, apnea (henti napas), dan kematian.

Sebuah laporan di Cina mengungkap kematian pria 47 tahun akibat keracunan etomidate oral yang menyebabkan penumpukan cairan (edema) pada paru-paru dan kerusakan hati.

Kronologi Kasus

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved