Mahasiswi UIN Solo Mengaku Dilecehkan Dosen saat Sidang Skripsi, Kasus Ditangani Satgas PPKS
Dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen berinisial F di UIN Raden Mas Said Solo mencuat setelah sepuluh mahasiswi berani bersuara.
Ringkasan Berita:
- Kasus ini terungkap setelah akun Instagram @uinsolostory mengunggah dugaan pelecehan fisik dan verbal yang dilakukan oleh dosen F.
- Hingga kini, tercatat ada 10 mahasiswi yang mengaku menjadi korban dan mereka mendesak pihak kampus memberikan sanksi.
- Rektor UIN Solo, Toto Suharto, menyatakan bahwa kasus ini sedang ditangani Satgas PPKS.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah kasus pelecehan seksual terjadi di lingkungan perguruan tinggi menunjukkan bahwa ruang akademis yang seharusnya menjadi tempat aman bagi mahasiswi semakin mengkhawatirkan.
Dugaan kasus pelecehan terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said, Solo, Jawa Tengah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia.
Awalnya, dugaan pelecehan yang dilakukan dosen berinisial F diunggah di akun Instagram @uinsolostory.
Sejumlah korban kemudian berani bersuara dan meminta pihak kampus memberi sanksi tegas.
Salah satu korban berinisial P mengaku dilecehkan saat menjalani sidang skripsi pada akhir tahun 2024.
P yang sudah lulus kuliah menjelaskan hanya ada dirinya dan F di ruang sidang karena dosen lain berhalangan hadir.
“Awalnya biasa saja seperti ujian pada umumnya. Tapi setelah itu beliau mulai membalas status media sosial saya, meminta foto, hingga mengirim pesan-pesan yang menurut saya tidak wajar,” ungkapnya, Selasa (19/5/2026), dikutip dari TribunSolo.com.
Baca juga: Kawal Pemulihan Korban Pelecehan Seksual, Mensos Gus Ipul: Kami Berdiri di Disi Korban
Korban merasa tertekan karena F selalu mendekatinya.
“Waktu itu beliau memegang tangan saya. Padahal kami sedang sidang dan hanya berdua di ruangan,” lanjutnya.
Kasus pelecehan kembali dilakukan secara verbal melalui pesan WhatsApp.
Selain P, mahasiswi lain mengaku mendapat pesan bernada personal dari F.
“Korban ternyata banyak. Ada yang cerita dan menunjukkan bukti chat, ada juga yang hanya berani bercerita karena chat-nya sudah dihapus,” tandasnya.
Menurut P, dosen tersebut pernah terlibat kasus pelecehan di fakultas lain.
“Kalau memang sudah pernah ada laporan sebelumnya, kenapa hanya dimutasi? Menurut saya itu bukan solusi,” tukasnya.
Baca juga: Dosen UNU Blitar Diduga Lakukan Pelecehan, Mahasiswa Ancam Mogok Kuliah jika Pelaku Tak Dipecat