Kamis, 21 Mei 2026

Antrean Solar Mengular di Sumbar, Pedagang hingga Sopir Truk Mengeluh

Antrean panjang Bio Solar di Sumbar bikin sopir truk dan pedagang resah, distribusi barang ikut terganggu.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
HO/IST
ANTREAN SOLAR- Antrean panjang Bio Solar di Sumbar bikin sopir truk dan pedagang resah, distribusi barang ikut terganggu. 
Ringkasan Berita:
  • Antrean panjang Bio Solar kembali terjadi di Sumbar, salah satunya di SPBU Pisang, Padang. 
  • Sopir truk mengeluh harus menunggu berjam-jam hingga berhari-hari, pedagang sekitar pun terdampak karena akses tertutup. 
  • Gubernur Mahyeldi menilai kuota subsidi dari pusat tidak sesuai kebutuhan riil

TRIBUNNEWS.COM - Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar kembali terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

Kondisi ini memicu keluhan dari sopir truk hingga pedagang sekitar SPBU karena antrean dinilai semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

Salah satu titik antrean terparah terjadi di SPBU Pisang, Jalan Raya By Pass, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Rabu (20/5/2026) sore.

Baca juga: Harga BBM Solar Melonjak, Konsumen Fortuner Diesel Beralih ke Zenix Hybrid

Antrean BBM di Sumbar

Pantauan di lokasi sekitar pukul 15.58 WIB, deretan truk pengangkut barang tampak mengular hampir mendekati Simpang Ketaping menuju area SPBU. Ujung antrean dilaporkan berada di depan PT Kredo Bajatama dengan jarak sekitar 200 meter dari simpang.

Mayoritas kendaraan yang mengantre merupakan truk logistik dari Sumbar menuju sejumlah daerah lain di Pulau Sumatera. Antrean panjang juga memakan sebagian badan jalan karena ukuran kendaraan yang besar.

Meski lalu lintas masih dapat bergerak, kepadatan kendaraan sempat membuat arus di Jalan By Pass melambat.

Di sekitar lokasi, sejumlah pedagang terlihat memasang ban bekas dan kursi di depan kios mereka untuk mencegah truk berhenti tepat di area usaha.

Pedagang Mengeluh

Salah seorang pedagang, Inel (58), mengaku aktivitas jual beli ikut terdampak akibat kendaraan besar yang menutupi akses dan pandangan pembeli.

“Sangat terganggu, karena ada yang ingin belanja, tapi tidak jadi, karena area penuh dan terhalang,” ujarnya.

Menurut Inel, beberapa sopir tetap memarkirkan kendaraan di depan kedainya meski sudah diberi tanda larangan.

“Terkadang mereka tetap parkir, saya marah, saya temui sopirnya untuk minta pindah tempat,” katanya.

Ia menduga kelangkaan solar mulai terjadi di sejumlah SPBU sehingga antrean kendaraan terus memanjang selama beberapa hari terakhir.

“Saya tidak tahu persis, cuma antrean panjang ini sudah terjadi beberapa hari ini, mungkin solar susah, makanya banyak yang antre,” tambahnya.

Baca juga: Harga Solar Nonsubsidi Naik Lagi, Segini Biaya Isi Penuh Tangki Fortuner, Pajero dan Innova Diesel

Keluhan Serupa Disampaikan Sopir Truk

Keluhan serupa juga datang dari sopir truk pengangkut minyak Crude Palm Oil (CPO), Rido, yang mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk mendapatkan solar.

Rido yang melayani rute Padang–Bengkulu mengatakan antrean solar kini hampir terjadi di banyak SPBU di Sumbar.

“Saya sudah antre satu jam lebih untuk mengisi solar di SPBU Pisang,” katanya.

Ia bahkan mengaku pernah mengantre hampir dua hari di wilayah Pesisir Selatan akibat stok BBM sering habis.

“Seminggu lalu saya mengisi di Pesisir Selatan, itu juga antre hampir dua hari,” ujarnya.

Menurut Rido, kondisi tersebut membuat distribusi barang menjadi terganggu karena banyak waktu habis di SPBU.

Ia berharap pemerintah menambah pasokan solar dan memprioritaskan kendaraan logistik agar distribusi barang tidak terhambat.

Selain itu, Rido juga menyoroti dugaan pengisian solar menggunakan jeriken di sejumlah SPBU yang disebut ikut memperparah antrean.

“Jika tidak antre, bagaimana bisa mendapatkan solar. Di Sumbar ini rata-rata SPBU yang ada solar, kendaraan harus antre panjang,” tuturnya.

Apa Kata Pemerintah?

Sementara itu, Gubernur Mahyeldi Ansharullah menyebut antrean panjang solar di Sumbar dipicu ketimpangan antara kebutuhan riil di lapangan dengan kuota yang diberikan pemerintah pusat melalui BPH Migas.

Menurut Mahyeldi, pemerintah daerah sudah berulang kali mengajukan penambahan kuota solar subsidi, namun realisasi yang diberikan selalu berada di bawah 80 persen dari total kebutuhan yang diusulkan.

“Jadi pusat (BPH Migas) ini tidak percaya dengan pemerintah daerah (Sumbar). Selain tidak percaya, pusat juga tidak bisa mengomunikasikan dengan daerah,” kata Mahyeldi.

Ia menjelaskan, Sumbar sebagai daerah wisata dan jalur lintas antarprovinsi memiliki konsumsi solar yang tinggi karena digunakan kendaraan logistik dari luar daerah.

Mahyeldi juga mengungkapkan kelangkaan solar tahun ini terjadi lebih cepat dibanding biasanya.

“Kalau dulu kelangkaan biasanya menjelang akhir tahun, sekarang pertengahan tahun sudah antre panjang,” ujarnya.

Baca juga: Menteri Bahlil: Harga LPG 3 Kg, Bensin Pertalite dan Solar Tidak Akan Naik

Penjelasan ESDM

Di sisi lain, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar turut menyoroti maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang disebut ikut menyedot solar subsidi dalam jumlah besar.

Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, mengatakan satu titik tambang ilegal di kawasan Batu Gando, Kabupaten Sijunjung, bahkan bisa menghabiskan hingga 1.000 liter solar per hari.

“PETI ini tidak hanya merusak lingkungan dan menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyentuh sektor lain, misalnya BBM. BBM kita di Sumbar jadi sulit didapat,” kata Helmi.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga memastikan stok Biosolar di wilayah Sumbar, khususnya Kota Padang, dalam kondisi aman.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyebut kepadatan terjadi akibat lonjakan kebutuhan dari sektor logistik dan angkutan barang dalam waktu bersamaan.

Pertamina juga mengklaim telah meningkatkan penyaluran harian Biosolar hingga 18 persen di atas rata-rata normal selama Mei 2026.

“Masyarakat diimbau untuk melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan agar distribusi energi dapat berjalan optimal dan merata,” ujarnya.

(TribunPadang/Tribunnews)

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved