4 Hal yang Perlu Didiskusikan dengan Dokter untuk Mencegah Resistansi Antimikroba di ICU
resistansi antimikroba (AMR) bisa jadi ancaman ketika dirawat di ICU sehingga pasien sulit sembuh dan perlu dirawat lebih lama.
2. Bagaimana dengan hasil uji kultur?
Perlu diketahui bahwa sebelum tenaga kesehatan memberi antibiotik definitif kepada pasien ICU, mereka akan melakukan tes laboratorium (uji kultur) untuk mengetahui secara tepat jenis bakteri penyebab infeksi pada pasien.
Hasil uji kultur akan keluar dalam beberapa hari, sebagai bahan evaluasi bagi tenaga kesehatan untuk melanjutkan, menghentikan, atau mengganti penggunaan antibiotik yang sudah berjalan.
Beberapa hal yang bisa ditanyakan kepada tenaga kesehatan antara lain adalah apakah akan dilakukan uji kultur, waktu keluarnya hasil uji kultur, alternatif perawatan yang bisa dilakukan setelah hasil uji kultur keluar, serta risiko pemberian antibiotik empirik apabila ternyata infeksi pasien bukan disebabkan oleh bakteri.
3. Bagaimana perkembangan kondisi pasien?
Selain hasil uji kultur, hal lain yang juga menjadi pertimbangan tenaga kesehatan dalam memberikan antibiotik adalah perkembangan kondisi pasien ICU, apakah membaik atau memburuk selama perawatan. Oleh karena itu, pertanyaan ini bisa diajukan secara berkala kepada tenaga kesehatan selama perawatan berlangsung.
"Lebih spesifiknya, pertanyaan yang bisa diajukan antara lain adalah seberapa sering tenaga kesehatan akan memberikan informasi terbaru mengenai kondisi pasien," katanya.
Juga siapa saja yang dapat ditanyai mengenai perkembangan kondisi kesehatan pasien, tindakan lain atau perubahan pemberian antibiotik apa yang akan diterapkan jika kondisi pasien tidak kunjung membaik, dan sebagainya.
4. Bagaimana risiko resistansi antimikroba ditangani?
Pertanyaan ini bisa diajukan ketika rekomendasi medis dari tenaga kesehatan mengandung unsur pemberian antibiotik di dalamnya.
Dengan bertanya secara spesifik mengenai langkah pencegahan AMR, pihak pasien pun dapat mengetahui secara pasti langkah-langkah yang diambil tenaga kesehatan untuk meminimalkan risiko AMR.
Beberapa pertanyaan yang bisa pasien atau keluarganya ajukan juga ke tenaga kesehatan misalnya seberapa tinggi risiko terjadinya resistansi antimikroba di ICU, indikator terjadinya resistansi antimikroba terhadap pasien, risiko transmisi bakteri, jamur atau virus yang sudah kebal ke anggota keluarga lain, serta upaya-upaya lain yang bisa dilakukan untuk menekan risiko terjadinya resistansi antimikroba.
Presiden Direktur Pfizer Indonesia, Nora Tiurlan Siagian mengungkapkan, pihaknya menyuarakan gerakan #JitudiICU sebagai wujud kontribusi nyata dalam upaya bersama mengedukasi masyarakat.
"Pasien perlu berdialog dan memperoleh informasi yang jelas dari tenaga kesehatan sehingga risiko AMR dapat dipahami dan ditanggulangi,” ungkapnya.
Hadir sebagai seorang patient advocate, Butet Trivyantini, menyambut baik diluncurkannya gerakan #JituDiICU.
“Keluarga dan pemerhati pasien sudah seyogyanya bertanya, serta mendapatkan informasi yang jelas dan edukasi tentang alasan, jenis, dosis, lama penggunaan, manfaat, dan risiko terkait penggunaan antibiotik di ICU,” jelas Butet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-antimikroba___.jpg)