Minggu, 19 April 2026

Bukan Sekadar Nutrisi, ASI Bentuk Awal Ikatan Emosional Ibu dan Anak

Ikatan emosional itu berdampak besar pada perkembangan perilaku dan fungsi kognitif anak di kemudian hari.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
shutterstock
Daun katuk memiliki banyak kandungan gizi yang dapat meningkatkan dan memperlancar ASI. (Shutterstock) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Air Susu Ibu (ASI) bukan hanya sekadar asupan nutrisi bagi bayi. 

Lebih dari itu, ASI menjadi media penting untuk membentuk ikatan emosional (bonding) antara ibu dan anak, yang berdampak besar pada perkembangan perilaku dan fungsi kognitif anak di kemudian hari.

Hal ini disampaikan oleh Psikolog Pelita Verawaty Sinaga,S.Psi. MM. 

“ASI adalah air susu ibu. Berarti itu pemberiannya dilakukan oleh ibu. Kapan itu pemberiannya? Dari umur 0 sampai 2 tahun. Idealnya seperti itu,” ungkapnya pada talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (17/7/2025). 

Baca juga: Patricia Gouw Mandi Pakai ASI, Diyakininya Bagus untuk Kesehatan Kulit

Namun, ia mengakui bahwa dalam kondisi modern saat ini, banyak ibu yang bekerja dan memilih untuk memompa ASI (pumping), sehingga pemberiannya dilakukan oleh caregiver atau pengasuh

Di sinilah, menurutnya  peran attachment atau kedekatan emosional menjadi sangat penting.

Menurutnya, pemberian ASI secara langsung dari ibu memungkinkan terjadinya kontak emosional dan fisik yang kuat, seperti tatapan mata, belaian, serta respons kasih sayang yang nyata dari sang ibu. 

Interaksi ini menciptakan keterikatan yang kuat (bonding) antara ibu dan anak, yang secara tidak langsung akan membentuk perilaku anak ke depannya.

“Kalau ASI itu pemberiannya kaitannya dengan attachment. Attachment itu kedekatan. Lalu kalau misalnya anak tadi sejak pemberian ASI itu sudah melekat, diberikan dengan ada tanda kasih sayang, terjadinya bonding antara ibu dan anak,"paparnya. 

"Maka begitu juga keluaran perilaku anak itu terhadap temannya, terhadap orang lain di luar. Dia akan menampilkan perilaku yang hangat, attached, empati seperti itu,” lanjutnya. 

Ia menambahkan bahwa perilaku anak terbentuk dari proses peniruan atau copycat terhadap lingkungan terdekat. 

Jika sejak bayi ia menerima kasih sayang dengan penuh perhatian, maka anak cenderung akan menumbuhkan empati dan rasa peduli terhadap orang lain saat dewasa.

Namun, apabila pemberian ASI dilakukan tanpa perhatian penuh, misalnya sambil bermain ponsel atau bekerja, maka stimulasi emosional ini menjadi berkurang. 

Demikian pula jika peran pemberi ASI digantikan oleh caregiver, penting bagi mereka untuk tetap menunjukkan perilaku hangat dan penuh perhatian kepada bayi agar proses bonding tetap tercipta.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved