Senin, 8 Juni 2026

Tak Hanya Konservasi, Mangrove dan Bekantan Dinilai Perlu Jadi Bagian Budaya Masyarakat

Nilam menegaskan, mangrove dan bekantan memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar objek wisata atau kawasan konservasi

Tayang:
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Eko Sutriyanto
HO
PELESTARIAN HUTAN - Pelestarian hutan mangrove dan konservasi bekantan perlu melampaui pendekatan program lingkungan semata. Puteri Indonesia Kebudayaan Nilam Onasis Sahputri menilai kedua aset alam khas Kalimantan tersebut, harus menjadi bagian dari budaya masyarakat agar upaya pelestariannya dapat berlangsung secara berkelanjutan 

Ringkasan Berita:
  • Puteri Indonesia Kebudayaan Nilam Onasis Sahputri menilai kedua aset alam khas Kalimantan tersebut, harus menjadi bagian dari budaya masyarakat
  • Hutan mangrove berperan penting sebagai benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. 
  • Kesadaran kolektif masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem mangrove maupun habitat bekantan

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelestarian hutan mangrove dan konservasi bekantan perlu melampaui pendekatan program lingkungan semata. 

Puteri Indonesia Kebudayaan Nilam Onasis Sahputri menilai kedua aset alam khas Kalimantan tersebut, harus menjadi bagian dari budaya masyarakat agar upaya pelestariannya dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pandangan itu disampaikan Nilam saat mengunjungi kawasan hutan mangrove dan pusat konservasi bekantan di Tarakan, Kalimantan Utara. 

Menurutnya, keberhasilan menjaga mangrove dan bekantan tidak hanya bergantung pada kebijakan atau program konservasi, tetapi juga pada tumbuhnya rasa memiliki dan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaan alam daerahnya.

"Kalau masyarakat sudah merasa memiliki dan bangga terhadap mangrove maupun bekantan, maka pelestarian akan berjalan dengan sendirinya. Karena itu, saya melihat keduanya perlu menjadi bagian dari identitas dan budaya daerah," kata Nilam dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).

Nilam menegaskan, mangrove dan bekantan memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar objek wisata atau kawasan konservasi. 

Baca juga: Mangrove dan Padang Lamun Dinilai Mampu Serap Karbon 10 Kali Lebih Efektif Dibanding Hutan Daratan

Hutan mangrove berperan penting sebagai benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. 

Sementara itu, bekantan sebagai satwa endemik Kalimantan merupakan simbol keanekaragaman hayati yang memiliki nilai ekologis dan edukatif.

Menurut dia, jika pelestarian kedua aset alam tersebut telah menjadi bagian dari budaya masyarakat, maka upaya perlindungannya akan berjalan lebih kuat dan berkesinambungan. 

Kesadaran kolektif masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem mangrove maupun habitat bekantan.

Selain memiliki fungsi ekologis, keberadaan kawasan mangrove dan habitat bekantan juga membuka peluang pengembangan ekowisata berkelanjutan. 

Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan daerah kepada masyarakat yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan itu, Nilam juga mengajak generasi muda untuk berperan aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan. 

Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana, mulai dari menjaga kebersihan kawasan wisata alam hingga mendukung program konservasi yang dijalankan pemerintah maupun komunitas lokal.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved