Sabtu, 6 Juni 2026

Adopsi AI di Perusahaan Indonesia Tumbuh 47 Persen Tapi Masih Tahap Dasar

Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus menunjukkan tren positif, tumbuh 47 persen secara tahunan di 2024.

Tayang:
Tribunnews/Dennis
ADOPSI AI DI PERUSAHAAN - Country Manager AWS Indonesia, Anthony Amni dalam paparan hasil riset adopsi AI (kecerdasan buatan) oleh sektor bisnis di Jakarta, Kamis (7/8/2025).  

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Adopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia terus menunjukkan tren positif, tumbuh 47 persen secara tahunan di 2024.

Studi terbaru dari Amazon Web Services (AWS) bersama Strand Partners mengungkapkan. pemanfaatan AI di Indonesia masih banyak berada di tahap dasar, khususnya di kalangan perusahaan besar.

Dalam laporan berjudul Unlocking Indonesia’s AI Potential disebutkan, dari sekitar 18 juta pelaku usaha yang telah menggunakan AI, hanya sebagian kecil yang benar-benar memanfaatkannya secara transformatif.

Sebanyak 76 persen responden mengaku pemakaian AI masih sebatas untuk meningkatkan efisiensi operasional dan otomasi proses. Hanya 10 persen bisnis yang sudah mengintegrasikan AI dalam pengambilan keputusan dan pengembangan model bisnis baru.

“Sebagian besar korporasi masih memposisikan AI sebagai alat pendukung, bukan sebagai bagian inti dari strategi bisnis,” ujar Country Manager AWS Indonesia, Anthony Amni di Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Kesenjangan juga terlihat antara perusahaan rintisan (startup) dan korporasi besar. Sebanyak 34 persen startup telah menggunakan AI untuk meluncurkan produk atau layanan baru. Sementara itu, hanya 21 persen perusahaan besar yang melakukan hal serupa.

Riset ini menyatakan, 52 persen startup sudah menerapkan AI dalam berbagai aspek bisnis mereka. Sebaliknya, hanya 22 persen perusahaan besar yang memiliki strategi AI secara komprehensif.


“Startup menjadi motor utama inovasi di sektor AI karena mampu bereksperimen dengan lebih cepat dan merespons kebutuhan pasar secara lincah,” kata Direktur Strand Partners, Nick Bonstow.

Menurut AWS, tren ini bisa menimbulkan kesenjangan ekonomi dua tingkat. Artinya, hanya kelompok usaha berbasis teknologi yang bisa tumbuh pesat, sementara korporasi tradisional makin tertinggal.

Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) menjadi hambatan utama dalam memperluas pemanfaatan AI. Dalam survei yang sama, sebanyak 57 persen pelaku usaha menyebut kekurangan tenaga kerja terampil sebagai tantangan terbesar.

Baca juga: Industri Jasa Keuangan Perlu Antisipasi Ancaman Keamanan Siber dan Adopsi AI


Diperkirakan 48 persen pekerjaan di masa depan akan membutuhkan literasi AI. Namun saat ini, hanya 21 persen pelaku usaha yang merasa tenaga kerja mereka sudah siap menghadapi era AI.

Sebanyak 41 persen startup menyoroti pentingnya akses terhadap pendanaan dan modal ventura untuk mendukung ekspansi usaha berbasis AI.

“Indonesia punya potensi besar untuk menjadi pusat AI di kawasan regional. Tapi perlu ada intervensi strategis, terutama dalam pembangunan keterampilan dan regulasi yang mendukung pertumbuhan,” jelas Anthony.

Baca juga: Studi Lenovo Ungkap Pengeluaran Adopsi AI di ASEAN+ Naik 2,7 Persen 


Sejak 2021, AWS berinvestasi 5 miliar dolar AS untuk membangun Wilayah Asia Pasifik (Jakarta) yang diproyeksikan menciptakan 24.700 lapangan kerja per tahun dan menyumbang 10,9 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 2036.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved