Kamis, 9 April 2026

Gerakan Kritis Netizen Dunia Maya Harus Mewaspadai Kelompok Radikalisme

Sosial media melahirkan demokratisasi narasi dan membuka ruang partisipasi publik yang belum pernah ada sebelumnya, jadi tempat lahirnya gerakan massa

Penulis: willy Widianto
Editor: Erik S
Shutterstock/Kompas
WASPADAI RADIKALISME - Pergerakan netizen yang kritis dari pergerakan dengan tagar Peringatan Darurat, Indonesia Gelap, sampai 17 + 8 harus dipahami dengan jernih oleh semua pihak sebagai dinamika yang multidimensi.  

"Karena komunikasi publik yang buruk hanya akan memperbesar ruang fabrikasi dari pihak tak bertanggungjawab. Upaya ini juga harus melibatkan para perwakilan platform global yang ada di Indonesia, bagaimana agar konten radikalisme bisa ditindak tegas tanpa mencederai kebebasan berekspresi," kata Haryo.

Pada akhirnya dinamika sosial media itu kata Haryo multidimensi dan bisa menjadi pedang bermata dua. Adalah tugas semua pihak untuk menggenggam pedang tersebut secara bersama-sama untuk melawan para pihak yang justru memanfaatkannya untuk memecah belah bangsa dan merusak demokrasi kita.

“Sosial media harus dapat berfungsi optimal sebagai 'balai warga' dan ruang demokrasi digital yang sehat tempat lahirnya berbagai gagasan, inovasi, dan kemajuan,” tutupnya.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved