Lokal Asri
Menelusuri Jepara di Hari Kartini: dari Ukiran yang Diperjuangkan hingga Rasa yang Bertahan
Mengenal Jepara sebagai Bumi Kartini lewat warisan ukiran kayu, tenun tradisional, dan kuliner lokal yang autentik.
TRIBUNNEWS.COM - Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang perjuangan putri Jepara bernama Raden Adjeng Kartini yang mengupayakan kesetaraan, emansipasi, dan pendidikan perempuan di Indonesia.
Namun, ketika kita bergerak ke sebelah utara Provinsi Jawa Tengah, kita bisa melihat bahwa Hari Kartini tidak hanya dikenang, tetapi juga melekat dalam setiap sudutnya.
Jejak Kartini hidup dalam ukiran kayu yang pernah ia perjuangkan, sekaligus dalam ragam kuliner khas yang tetap bertahan hingga hari ini.
Karena itu, Jepara dijuluki sebagai ‘Bumi Kartini’, tempat lahirnya gagasan besar tentang emansipasi perempuan dan mengajarkan kita bagaimana potensi lokal bisa menjadi jalan perubahan sosial.
Nah, jika kamu hendak berwisata ke kota kelahiran RA Kartini, ada beberapa kerajinan tangan hingga kuliner khas kota Jepara yang bisa dibeli untuk mendukung perjuangan Ibu Kartini.
Jepara dan Ciri Khasnya yang Mendunia
-
Seni Ukir Kayu
Jepara sangat terkenal dengan seni ukir kayu. Secara visual, ciri khas ukiran Jepara terlihat dari motif tumbuhan menjalar, dengan elemen seperti tangkai relung, jumbai, dan trubusan yang dinamis.
Namun, di balik keindahannya, ada cerita tentang ketimpangan yang pernah mengusik Kartini.
Ia melihat para pengrajin bekerja dengan detail tinggi, tetapi tetap hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dari situ, Kartini mulai bergerak dengan mengajak para pengrajin menciptakan produk yang lebih variatif seperti peti jahitan, meja kecil, hingga cinderamata.
Tak berhenti sampai di situ, Kartini turut membantu pemasaran. Produk ukiran Jepara dibawa ke Semarang, Batavia, hingga diperkenalkan ke luar negeri melalui relasinya di Belanda.
Langkah inilah yang menjadi titik balik para pengrajin. Ukiran Jepara berkembang dari kerajinan lokal menjadi komoditas bernilai tinggi, bahkan kini dikenal sebagai salah satu pusat ukir dunia (The World Carving Center).
-
Tenun Troso
Selain ukiran, Jepara juga memiliki warisan tekstil Tenun Troso yang berasal dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan. Mengutip dari berbagai sumber, kain ini pertama kalinya dipakai oleh Mbah Senu dan Nyi Senu yang menjadi tokoh cikal bakal Desa Troso.
Dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM), kain ini membawa jejak evolusi yang panjang. Berawal dari teknik tenun gendong di tahun 1935, kemudian beralih ke tenun pancal, hingga menetap pada teknik tenun ikat sejak 1943.
Setiap helainya menyimpan keindahan motif khas seperti Kedawung, Ampel, Mbelik Boyolali, Sicengkir, dan Gapura Mantingan. Dengan ciri khasnya ini, Tenun Troso telah mendapatkan perlindungan indikasi geografis untuk mempertegas posisinya sebagai warisan khas Jepara yang diakui dan orisinal.
Baca juga: Rekomendasi Kuliner Ayam Nusantara yang Terinspirasi dari Kekayaan Alam Indonesia
-
Horog-horog
Tak lengkap membahas Jepara tanpa menyentuh kulinernya. Di sinilah cerita tentang “rasa yang bertahan” menemukan maknanya hingga dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2025.
Horog-horog adalah makanan khas Jepara berbahan sari pati pohon aren. Teksturnya kenyal dan bisa dipadukan dengan berbagai hidangan seperti pecel, soto, hingga bakso.
Sumber: Tribunnews.com
Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Lokal Asri yang berfokus pada lokalisasi nilai-nilai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pelajari selengkapnya!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tugu-RA-Kartini.jpg)