Kamis, 30 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Sekolah Adat Solusi Menciptakan Generasi Muda yang Kreatif dan Berbudaya

Beberapa waktu lalu, kita melihat berbagai postingan di media sosial bagaimana para pelajar merayakan selesainya penyelenggaraan Ujian Nasional dengan

Tayang:

Ditulis oleh : Fornestor Mindaw, Mahasiswa S1 Universitas Atmajaya Yogyakarta

TRIBUNNERS - Beberapa waktu lalu, kita melihat berbagai postingan di media sosial bagaimana para pelajar merayakan selesainya penyelenggaraan Ujian Nasional dengan aktivitas-aktivitas yang dianggap kurang senonoh seperti saling coret-menyoret seragam, ada beberapa siswi menyobek bagian tetentu dari rok sekolah dan mungkin ada yang lebih dari itu.

Ada pertanyaan yang cukup menohok, apakah itu hasil dari proses belajar selama tiga tahun di sekolah? Atau misalnya, itukah cerminanan dari hasil pendidikan sekarang? Tentu hal ini jangan kita lihat hanya dari sudut pandang etika, tetapi lebih jauh kita perlu mengecek sistem yang lebih besar yang berimplikasi pada tindakan-tindakan perayaan para siswa-siswi tersebut.

Walau secara langsung tidak ada kaitannya, adakah alternatif sistem pendidikan yang berbeda sehingga kita tidak lagi dipertontonkan dengan seremoni dan perayaan para pelajar dalam mengakhiri masa SMA mereka?

Dan terlihat seperti tidak berbudaya tersebut? Sekolah adat misalnya, seperti yang sedang digalakkan oleh para pemuda adat nusantara?

Bila kita telusuri, banyak orang sekarang ini memandang bahwa hak atas lingkungan hidup yang aman, hak atas akses kepada tanah-tanah leluhur, dan hak atas warisan budaya dan identitas asli lebih penting ketimbang hak-hak warga, hak suara atau hak memilih dan hak-hak atas kesejahteraan.

Sejalan dengan David Henley, dan Jamie Davidson di buku Adat dalam Politik Indonesia (2007) tersebut, pada arus yang saya sebut belum populer,ada semacam gerakan sekolah adat oleh para aktivis Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Sekolah adat sebagai kampanye yang diinisiasi oleh pemuda-pemuda adat tersebut merupakan bentuk resistensi terhadap sistem pendidikan nasional yang dianggap sebagai salah satu bentuk penjajahan pola pikir.

Tujuan sekolah adat, seperti yang diungkapkan Modesta Wisa, salah satu aktivis BPAN asal Kalbar, adalah untuk menciptakan generasi muda adat yang kreatif dan berbudaya.

Wisa menambahkan bahwa sekolah adat juga berusaha untuk menggali kembali sejarah komunitas adat, mempertahakan kearifan lokal serta bahasa daerah ditengah arus moderenisasi.

Para aktivis BPAN melalui gerakan sekolah adat menolak sistem pendidikan formal yang cenderung menggeneralkan kurikulum nasional yang berpotensi mendorong peserta didiknya menjadi individualis dan materialistik.

Dalam bahasa yang agak keras, sekolah formal di Indonesia seperti menerapkan peternakkan manusia di dalamnya. Sekolah formal yang selalu menyeragamkan sistem pendidikkan mengarah pada bentuk penjajahan pola pikir dan ini salah satu bentuk peninggalan kolonialisme.

Kampanye sekolah adat ini sendiri digaungkan melalui Deklarasi Pendidikan Adat BPAN di Kesepuhan Cipta Gelar pada 18 sampai 23 Maret 2016 yang lalu.

Para pemuda adat dari seluruh penjuru Indonesia yang mengadakan “Retret Metodologi Pendidikan Adat” ini kecewa dengan sistem pendidikan nasional yang selama ini, dalam pengertiannya secara khusus dianggap mengancam keberlangsungan masyarakat adat.

Dalam butir deklarasinya, BPAN menilai bahwa sistem pendidikan Nasional tidak sesuai dengan konteks lokal serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved