Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Kemacetan Penyebab Pengguna Jalan Tempramen

Marah adalah bagian dari sisi kemanusiaan seseorang. Namun demikian, marah yang tidak terkontrol justru mengandung makna sebaliknya dan biasa dianggap

DAILY MAIL

Ditulis oleh : Merapi Cultural Institute (MCI)

TRIBUNNERS - Marah adalah bagian dari sisi kemanusiaan seseorang. Namun demikian, marah yang tidak terkontrol justru mengandung makna sebaliknya dan biasa dianggap sebagai tanda "ketidakmanusiawian" itu sendiri. Dan tak jarang, orang yang marah lalu melontarkan "kosakata binatang" sebagai bentuk ekspresi makiannya.

Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Gendhotwukir, yang dalam beberapa bulan terakhir ini intensif melakukan penelitian perilaku kemarahan, menemukan bahwa mayoritas orang-orang kota besar, dalam hal ini adalah mereka yang banyak beraktivitas di kota besar, ternyata banyak meluapkan atau melampiaskan kemarahannya di jalan raya.

"Mobilitas yang semakin padat membuat seseorang tidak bisa lepas dari aktivitas mengemudi atau mengendarai motor. Nah, meredam emosi saat berkendara di jalan raya memang bukan perkara mudah. Apakah ada dari kita yang belum pernah marah saat di jalan raya? Apalagi, di tengah kemacetan yang biasa menghinggapi dan menjadi ciri khas kota-kota besar di Indonesia saat ini," kata peneliti yang pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman ini.

Ia pun menemukan ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kemarahan seseorang gampang meledak di jalan raya. Secara internal, tentu saja berkaitan erat dengan kecerdasan emosional (EQ).

Orang yang secara emosi sangat sensitif, kemarahannya biasanya gampang meledak. Apalagi, saat terstimulasi oleh faktor eksternal.

"Pada bulan suci Ramadan saat ini, meredam emosi menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang sensitif. Tipikal pribadi yang sensitif biasanya tidak sebatas melontarkan ancaman dengan kata-kata saat marah, tetapi bisa mengintimidasi bahkan sampai menantang adu jotos di jalan raya," terang peneliti asal Magelang ini.

 Faktor eksternal, jelasnya, mengacu pada perilaku sesama pengemudi dan pengendara lain di jalan raya yang biasanya melakukan sesuatu yang tiba-tiba tanpa bisa diprediksi.

Dan pada umumnya, perilaku ugal-ugalan dari pengemudi lain menjadi stimulus lahirnya kejengkalan dan kemarahan. Apalagi, kecenderungan pengemudi mobil atau pengendara motor yang egois dan mau menang sendiri pun kini menjadi salah satu ciri dari manusia-manusia kota besar.

"Di tengah kemacetan dan terik matahari, seseorang akan gampang terprovokasi untuk meluapkan emosinya, misalkan saat tiba-tiba motor atau mobil di depan kita belok seenak-udelnya atau tiba-tiba orang membuang puntung rokok atau sampah yang mengenai kita atau kendaraan kita," terang salah satu pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) di lereng Gunung Merapi ini merujuk pada faktor eksternal.

Halaman
12

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved