Tribunners / Citizen Journalism

Bagaimana Me-marketing-kan Pancasila

Ada tiga alasan yang menyebabkan penurunan pendukung Pancasila ini. Pertama, karena adanya ketimpangan ekonomi.

Bagaimana Me-marketing-kan Pancasila
Istimewa
Founder Generasi Literat, Milastri Muzakkar. 

Komunitas tempat saya bergabung, Generasi Literat, memilih menggunakan metode permainan, sebagai cara yang efektif dan menyenangkan dalam proses belajar.

Secara rutin, kami mengajak anak dan remaja lintas iman untuk bermain “Kartu Pancasila” dan “Ular Tangga Nusantara” untuk mengenalkan keberagaman dan kekayaan Indonesia, serta aplikasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini diadakan di taman, sekolah, atau rumah ibadah.

Di atas hanya beberapa contoh. Tentu masih banyak yang lain.

Dari testimoni peserta yang mengikuti kegiatan yang diadakan oleh komunitas-komunitas di atas, cara-cara itu lebih menyentuh dan lebih praktis untuk dipraktikkan.

Marketing Pancasila Untuk Zaman Old
Lalu bagaimana “menjual” Pancasila ke generasi zaman old-generasi baby boomers- yang merupakan orang tua kita?

Cara-cara kreatif semacam permainan yang dipakai untuk generasi milenial, mungkin akan kurang efektif.

Karena beberapa orang tua malu untuk kembali ke masa kecilnya.

Sebagian lagi merasa metode bermain berarti hanya main-main, bukan belajar.

Menurut saya, mengangkat kearifan lokal di setiap daerah di Indonesia akan lebih baik.
Sebab, para orang tua kita lebih dekat dan mungkin masih mengingat kebiasan-kebiasaan lokal yang sebenarnya sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

Indonesia memiliki banyak sekali falsafah hidup yang menjadi kearifan lokal dari Aceh hingga Papua.

Di Aceh, misalnya, ada tradisi “Duekfakat” (duduk bermusyawarah untuk mencapai mufakat).
Di Lampung, ada falsafah “Piil Pesenggiri” yang mengajarkan nilai kasih sayang, kekeluargaan dan gotong-royong.

Di Sulawesi Selatan, suku Bugis memiliki falsafah “Siri na Pesse” yang mengajarkan tiga prinsip utama : “Sipakatau” (saling memanusiakan), “Sipakainge’” (saling mengingatkan), dan “Sipakalebbi” (saling menghargai).

Tradisi “Perang Topat” (ketupat) adalah cara umat Islam dan Hindu di Lombok menjaga kerukunan dan persatuan.

Sistem kekeluargaan melalui “Pela Gandong” mampu mengatasi konflik di Ambon.

Di Papua Barat, masih kental falsafah “Satu Tungku, 3 Batu” yang mengajarkan toleransi tiga agama yang banyak dianut masyarakat setempat.

Lagi-lagi, di atas hanya beberapa contoh kearifan lokal yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di setiap daerah.

Nilai-nilai lokal inilah yang mestinya kembali digelorakan kepada generasi old, khususnya.

Bisa jadi sebagian dari orang tua kita masih menyaksikan atau bahkan mengalami langsung tradisi tersebut.

Hemat saya, BPIP bisa mengambil ranah ini.

Memperbanyak sosialisasi dan kampanye nilai-nilai kearifan lokal yang sejalan dengan Pancasila.

Segala cara harus ditempuh untuk memarketingkan Pancasila.

Namun, menggunakan cara dan pendekatan sesuai segmen, akan lebih memudahkan sampainya pesan kepada alamat yang dituju. Mari kita ambil peran masing-masing.

Editor: Dewi Agustina
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved