Tribunners / Citizen Journalism
Ketika Jenderal dan Bonek Beternak Kambing dan Lele
Mendengar nama Bonek, siapa pun akan terbayang wajah-wajah pemberani yang mewarnai pertandingan sepakbola di Indonesia.
Kini, Abhinaya punya kekuatan bisnis yang menggurita di masyarakat. Jika awalnya di Bantul, kini mereka punya bisnis yang sama di 4 kabupaten di DIY serta sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.
Keberadaan Bonek dan teman-temannya selalu disambut hangat oleh masyarakat. Inilah korelasi logis ketika seseorang atau kelompok berhasil mengangkat ekonomi masyarakat.
Di kecamatan Pandak, Bantul, Bonek yang mengenakan kaos hitam bergambar 'Bang Maruli' disapa 'bah' oleh anak kecil. Ternyata itu sebutan dari kata 'abah'.
"Ya, kami ini kan awalnya hanya membuat kegiatan bagi anak-anak muda. Saya kira sudah saatnya anak muda berkarya. Kalau saya sampai dapat panggilan Abah itu ya karena ada simbiosis mutualisme di masyarakat. Mereka merasakan manfaatnya," kata Bonek seraya tersenyum.
Tak hanya itu, masyarakat juga bangga karena tahu-tahu ada orang penting, seorang jenderal TNI dari Jakarta bertamu di rumah mereka yang sederhana. Kebanggaan terasa dan terlihat dari wajah-wajah mereka.
"Pesan Bang Maruli yang selalu saya ingat, masyarakat harus selalu tersenyum," ungkap Bonek, seraya menambahkan bahwa dengan berupaya membuat rakyat tersenyum dengan kegiatan ekonomi semacam ini.
Ya, Maruli yang dulu berpangkat Kolonel, sekarang sudah berpangkat Mayor Jenderal dengan jabatan Komandan Paspampres.
Dampak psikologis dari kunjungan 'Bang Maruli' ke Bantul secara personal itu sangat membesarkan hati masyarakat.
Masyarakat bergerak untuk bertani maupun beternak ikan dan kambing sebagai sambilan.
Kemudahan mendapatkan bibit tanaman, bibit ikan maupun hewan ternak, membuat masyarakat mantap bekerjasama dengan Abhinaya. Semua kebutuhan masyarakat untuk bertani dan beternak difasilitasi oleh Abhinaya Upangga.
Tak terhitung berapa persisnya masyarakat yang terbantu secara ekonomi. Dalam satu kelurahan saja misalnya Bambanglipuro, Bantul, ada 17 RT. Masing-masing RT rata-rata memiliki 50-60 kepala keluarga. Sebanyak itulah Abhinaya membantu perekonomian masyarakat.
"Kami nggak sempat menghitung berapa banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kami ini," kata Bonek seraya menmabahkan, “bayangkan jika satu kecamatan ada sekitar 70 kolam, kalikan saja dengan berapa kecamatan yang sudah melaksanakan usaha ini secara bergulir.”
Diakui, dalam bisnis pertanian, selalu ada kemungkinan gagal. Pernah di dusun Banyu Urip, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Abhinaya Upangga dan masyarakat menanam pepaya California.
"Buahnya gede-gede dan bagus-bagus, eh njeblug kena banjir. Pepaya yang siap panen tenggelam. Ya sudah, rusak semua," kata Bonek yang diamini warga sekitar.
Pengalaman itu membuat Abhinaya dan masyarakat makin pinter. Selain bertani, mereka juga memelihara kambing. Kini setidaknya ada 50 ekor kambing yang dipelihara warga bekerjasama dengan Abhinaya Upangga.
Kerugian yang terjadi dalam menanam pepaya dapat diminimalkan dengan keuntungan dari beternak kambing. "Pokoknya kita ciptakan kemandirian ekonomi di masyarakat. Masyarakat butuh apa untuk berusaha, kita fasilitasi," tutur Bonek.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bternak.jpg)