Tribunners / Citizen Journalism

Berkah Mbah Hasyim dan Banjirnya Intelektual Muda NU

Menyebut satu persatu intelektual muda Nahdlatul Ulama tidak akan pernah ada habisnya. Nama Nahdlatul Ulama menjadi sebait doa Mbah Hasyim

Berkah Mbah Hasyim dan Banjirnya Intelektual Muda NU
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Berkah Mbah Hasyim dan Banjirnya Intelektual Muda NU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Segala puji bagi Allah swt yang menganugerahkan kanjeng Nabi Muhammad dan Islam pada kita, serta para Warasatul Anbiya’ (Pewaris Nabi), yaitu para ulama dan kiai yang gigih membela Islam, termasuk Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari. Sebagai pewaris Nabi, Mbah Hasyim tidak sia-sia menamai jam’iyahnya sebagai Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Kaum Intelektual), yang hari ini kita lihat dengan mata kepala sendiri.

Kiai-kiai muda itu diantaranya adalah Afifuddin Dimyati, Reza Ahmad Zahid, Abdul Ghofur Maimun, Ahmad Azaim Ibrahimy, Abdul Muqsith Ghozali, Ulil Abshar Abdulla, Nadirsyah Hosen, Bahauddin Nur Salim, Ahmad Baso, Jadul Maula, Mifah Maulana, Abdurrahman Kautsar, Wafiyul Ahdi, Ahmad Muwafiq, Maruf Khozin, Allama Alauddin, Ahmad Ishomuddin, Yusuf Chudlori, Aguk Irawan, Fathurrozi Zubair, Abbas Billy Yachsy, Zuhairi Misrawi, Irwan Masduqi, dan lain-lain.

Menyebut satu persatu intelektual muda Nahdlatul Ulama tidak akan pernah ada habisnya. Nama Nahdlatul Ulama menjadi sebait doa Mbah Hasyim dan para ulama sezaman untuk generasi penerusnya. Doa itu makin hari makin terasa telah terkabul. Lihat saja profil-profile dan jejak-jejak karya orang-orang yang disebutkan sebelumnya. Mereka seakan anggota tubuh yang saling menopang satu sama lain, saling berperan di pos-pos tertentu.

Katakan saja, Gus Awis sebagai pakar linguistik dan ilmu al-Quran. Tulisan-tulisannya yang berjudul Mawarid al-Bayan fi Ulum al-Quran, Safa al-Lisan fi I’rab al-Quran, atau sosiolinguistik yang diterbitkan UIN Sunan Ampel Surabaya, membuat kita terperangah untuk mengikuti jejak intelektualnya. Kemampuan Gus Awis melahirkan karya orisinil tentang al-Quran di usia yang sangat muda sungguh jempolan.

Sekalipun karyanya tidak bersentuhan dengan al-Quran langsung, Nadirsyah Hosen diakui dunia sebagai periset ilmiah jempolan. Latar belakangnya sebagai dosen di kampus luar negeri membuat tulisan-tulisannya, terlebih saat mengkritik ideologi khilafah dan komunitas pendukung khilafah di Indonesia, sangat mencerahkan. NKRI tidak akan berubah menjadi Negara Khilafah selama tulisan-tulisan Gus Nadir kita amalkan.

Jika Gus Nadir melalui pendekatan sejarah, beda lagi dengan Irwan Masduqi. Penampilannya ketika berdebat langsung di sarang pendukung gerakah ideologi Khilafah, cara Gus Irwan sangat argumentatif. Menguasai betul tema yang dibahas, menyajikan pola penafsiran yang intertekstualis, tanpa menciderai lawan tandingnya. Nalar berpikir seperti itu, penulis yakin, hanya dimiliki oleh seorang penggerak Islam progresif di masa depan.

Bagi umat muslim yang tidak terbiasa mencerna gagasan sains-ilmiah, tidak perlu khawatir. Di sana ada Gus Muwafiq, seorang muballigh yang cenderung bernalar seniman. Kekayaan data sejarah, penguasaan literatur klasik Jawa, dan gaya interpretasi dan kontekstaulisasinya ke zaman milenial, sungguh tepat sasaran. Mendengarkan ceramah-ceramahnya membuat kita seperti anak-anak yang kecanduan dongeng dari orangtuanya. Sungguh membangkitkan imajinasi historis religius kita.

Apalagi teringat nama Aguk Irawan, seorang sastrawan, novelis, penerjemah kitab-kitab bahasa Arab dan pengasuh pondok literasi, yang mungkin satu-satunya di nusantara. Minimal satu-satunya pondok yang dengan tegas menyatakan berdakwah lewat literasi. Walaupun komunitas literasi di Yogyakarta sangat banyak, tetapi menggabungkan literasi dengan pondok pesantren menjadi ciri khas perjuangan Aguk Irawan. Yang membanggakan dari Kang Aguk ini, banyak novel-novel sufiestiknya diangkat ke layar lebar, serta profil Mbah Hasyim, Mbah Wahid, dan Gus Dur diborong olehnya seorang diri.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved