Tribunners / Citizen Journalism

Kongres PAN

Partai Amanat Nasional di Persimpangan Jalan

Menguatnya sistem oligarki kepartaian yang kini hampir melanda semua partai politik di Indonesia.

Partai Amanat Nasional di Persimpangan Jalan
Pangi Syarwi Chaniago
Pangi Syarwi Chaniago, Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting. 

Adanya upaya memperlemah ‘bergaining position’ Amien Rais sebagai figur sentral dalam partai adalah kesalahan fatal, PAN tanpa Amien Rais akan kehilangan semangat juang dan dis-orientasi.

Upaya memposisikan diri berkonflik dengan Amien Rais oleh sebagian atau segelintir elite yang ingin berebut kursi ketua umum tentu sangat kontraproduktif dalam rangka upaya membesarkan partai.

Maka jalan kompetisi yang demokratis tanpa saling meniadakan dan menyingkirkan adalah pilihan paling realistis.

Baca: Lulus Passing Grade SKD Belum Tentu Lanjut ke Tahap SKB, Inilah Cara Penentuan Kelulusan Tahap SKD

Partai politik harusnya menjadi partai yang moderen, tidak lagi bergantung pada satu tokoh sentral/figur, ketergantungan pada figur ini hampir semua merata terjadi di parpol kita. Namun sayang, lepas dari perangkap rezim otoriter Soeharto, partai bukannya beranjak menjadi moderen, malah menjadi elitis, dan figur sentris.

Partai beramai-ramai bergeser menjadi partai feodal dan relasi patron klien, menjadi elitis dan membangun DNA oligarki kepartaian.

Baca: Kronologi Penangkapan & Jenis Narkoba yang Dimiliki Nanie Darham Pemain Film Air Terjun Pengantin

Jualan partai pada pemilu bukan program atau ideologi partai  namun gula-gula, figur populis, uang dan politik identitas. Partai juga belum tumbuh menjadi partai moderen berbasiskan nilai nilai demokratis.

Oligarki mengancam, partai mulai berani punggungi demokrasi, elite partai mulai meneriakkan slogan-slogan anti demokrasi, menganggapnya sebagai sistem politik yang mahal, tidak efesien dan mengidap bahaya politik identitas, yang mereka kecam harusnya oligarkinya bukan demokrasinya.

Partai hari ini trend menguat ke oligarki dan kartelisasi seperti PDI Perjuangan, Nasdem, Gerindra, Partai Demokrat dan sepertinya beberapa partai papan tengah juga akan ikut-ikutan, hampir tidak terjadi pertukaran elite secara reguler.

Baca: Indria Samego: Pengaruh Amien Rais Sudah Berkurang di PAN Jika Zulhas Terpilih Lagi

Bahkan anaknya sudah disiapkan untuk mengantikannya, parpol dikelola tidak ubah seperti mengelola perusahaan keluarga.

Menurut Juan Linz (1996), sebuah ciri khas partai demokrasi prasyarat mutlaknya adalah  melakukan pergantian kekuasaan elite secara teratur, berpindah tangan dan terjadi pembatasan kekuasaan pada struktur kepemimpinan partai politik, menyiapkan kader pemimpin pada masa yang akan datang.

Kegelisahan kita, fenomena ini hampir tidak terjadi dalam partai kita sekarang, realitas politik tidak terjadi pertukaran elite secara reguler, partai dimenangkan oligarki dan diambil keuntungan oleh oligarki partai, diasuh oleh demokrasi. 

Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved