Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Muwafiq, Dai Nyentrik dan Sejarawan Budaya Nusantara

Gus Muwafiq sering mengisi seminar dan dakwah mulai dari kalangan pesantren hingga umum.

YouTube/ Inspirasi toev_612
Gus Muwafiq saat mengisi tausiah Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Bogor, Rabu (21/11/2018) lalu. 

Gus Muwafiq memiliki ciri khas bersuara lantang dan berambut gondrong. Soal rambutnya yang gondrong, dalam salah satu wawancara dengan media, ia menceritakan bahwa sudah sejak kecil membiarkan rambutnya gondrong. Dia bilang kalau rambutnya dipotong pendek sering meriang, alias jatuh sakit. Ciri lain, Gus Muwafiq adalah selalu mengenakan kaos oblong putih dengan bawahan sarung.

Dalam pengajiannya, Gus Muwafiq sering membahas isu-isu terbaru dan memberikan penjelasan secara rinci yang mudah diterima. Ia, juga dikenal sebagai kiai dengan pemahaman sejarah yang sangat mendalam, mulai sejarah peradaban manusia secara umum, sejarah Agama Islam pada masa kenabian, hingga sejarah Nusantara.

Begitu pun sejarah agama Islam di Indonesia, mulai awal perkembangan hingga saat ini. Ia dapat menjelaskan dengan jelas dan mudah difahami tentang setiap maksud dan makna filosofis dari setiap ajaran dan anjuran para wali/kyai tentang khas dakwah di Nusantara.

Menurutnya, peradaban Islam tidak hanya berlangsung di jazirah Arab, Persia, dan Turki, tapi Nusantara juga salah satu kawasan berkembangnya Islam di tengah kemajemukan tradisi dan budaya sehingga banyak mewujudkan peradaban, baik peradaban laku, pemikiran, ide, gagasan, dan bangunan-bangunan khas berupa artefak, kitab, manuskrip, dan benda-benda arkeologi.

Selain hal diatas, ia dikenal dengan pendakwah Islam yang teduh, santun, inspiratif dan kaya akan makna. Bahkan beberapa non muslim mengaku senang mendengarkan ceramahnya. Hal itu bisa ditelusur dalam kolom komentar di youtube. Jadi, tidak ragu, jika kaum melenia jika ingin ngaji online via YouTube, salah satu rekomendasinya adalah ceramah “Gus Muwafiq”, karena yang dibahas sangat luas, selain islam sebagai syariat, juga sebagai tradisi, budaya dan peraaban, dan yang dibahas pelbagai tema dan persoalan mutakhir.

Selain ceramah, ia juga menulis, salah satu karya tulis Gus Muwafiq yang perlu dibaca dan menarik adalah buku barunya, Islam Rahmatan lil-alamin (MedPres, 2019). Buku yang dikarang Gus Muwafiq ini, merupakan salah satu khazanah tulis yang berupaya memberikan pemahaman keindonesiaan dalam menjalankan prinsip-prinsip agama. Dalam buku setebal 223 halaman, Gus Muwafiq banyak mengulas dan mengungkap wawasan kekinian tentang dunia Islam dan kaitannya dengan perkembangan Islam di Indonesia.

Dari sini kita bisa memahami bahwa prinsip pemahaman Islam yang ingin dibangun Gus Muwafiq ialah spirit Rahmatan lil ‘Alamin. Prinsip ini tidak hanya menjangkau kalangan Muslim, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap peradaban yang dibangun manusia saling terkait sehingga masyarakat tidak harus bersikap antipati terhadap perbedaan. Bahkan prinsip rahmatan lil ‘alamin bisa berangkat dari kondisi asli suatu bangsa.

Kelebihannya yang lain, ia adalah dai yang sangat humoris dan tidak kaku. Karena itu, meski materi yang disampaikannya berat, seperti sejarah dinasti-dinasti yang saling terkait, tetap saja terasa ringan dan renyah, maka tidak heran, jika jamaah betah berlama-lama menyimak pengajiannya (entah online maupun offline), tak bosan karena pembawaannya yang kocak dan penuh dengan humor. Humor memang menjadi penting dalam suatu ceramah karena membuat audian/jamaah tidak ngantuk, tidak jenuh dan menjadikan otak kembali fresh.

Tak diragukan lagi, bahwa Gus Muwafiq, selain dikenal dai, ia adalah budayawan dan sejarawan muslim yang mumpuni berasal dari kultur Nahdliyin. Selain itu, ia juga sosok Kiai yang memiliki pemikiran visioner membangun NU dikelas akar rumput dengan berbasis kultural. Jadi pantaslah kalau ia dikatakan salah satu aset berharga NU. Wallahu’alam bishawab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Berita Populer
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved