Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Awis, Penerus Ulama Nusantara di Jazirah Arab

Gus Awis melanjutkan tradisi ulama Nusantara yang menulis khazanah ilmu Islam dengan menggunakan bahasa Arab.

Facebook KH. Afifudin Dimyathi
KH. M. Afifudin Dimyathi bersama Gus Baha' 

Gus Awis, Penerus Ulama Nusantara di Hijaz (Jazirah Arab)

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., MA

TRIBUNNEWS.COM - Peneliti kitab kuning asal Belanda Martin van Bruinessen pada tahun 1990-an, berpendapat, bahwa Ulama Nusantara, khususnya yang berasal dari Indonesia pernah menjadi kiblat keilmuan Islam di negeri Arab (Hijaz) sekitar abad 18 sampai akhir abad 19.

Reputasi itu didapatkan, karena karya-karya mereka yang berbahasa Arab menjadi rujukan ulama dunia. Beberapa diantaranya adalah Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib Minangkabawi, Syaikh Mahfud At-Termasi, Syaikh Junaid Al-Batawi, Syaikh Hasyim Asy’ari Al-Jawi dan lain sebagaianya.

Bahkan Snouck Hurgronje, seorang orientalis terkemuka asal Belanda menulis "Mecca in the latter part of 19th Century," dan mencatat, bahwa ulama-ulama Nusantara kerap menjadi Imam besar dan Mufti Masjidil Haram.

Tradisi menulis dalam bahasa Arab tidak berakhir sampai awal abad ke-20, atau era perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, namun terus berlanjut, tetapi dari segi kuantitasnya amat sedikit.

Karena belakangan, pengaruh dari kalangan ulama modernis atau reformis begitu masif, sehingga kiai-kiai lebih senang menulis dalam bahasa Indonesia, dan sebagian masih mempertahanknya dengan menggunakan Arab pegon, dan yang sedikit itu, DR. KH. M. Afifudin Dimyathi, LC, MA, atau biasa dipanggil Gus Awis, termasuk yang mempertahankan tradisi ulama Nusantara, menulis dengan bahasa Arab di era melenial ini.

Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur 7 Mei 1979. Nasabnya dari jalur ayah, Gus Awis adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli At-Tamimi. Kiai Romli At-Tamim adalah seorang Mursyid (Guru) Thoriqoh Mu’tabaroh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, yang jalur kememursyidannya sampai ke Sulton Auliya' Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga Nabi Muhammad Saw., sementara dari jalur ibu, Gus Awis merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang nasabnya sampai ke Sunan Bonang, Tuban.

Gus Awis, Kiai-Muda yang santun ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Rejoso Jombang (lulus tahun 1991); Kemudian Madrasah Tsanawiyah Progam Khusus Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan (lulus tahun 1994); Lalu Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Jember (lulus tahun 1997); belajar dan menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh K.H Mufid Mas’ud sampai tahun 1998.

Setelah lulus dari MAKN, beliau meneruskan Pendidikan S-1 di al Azhar University Mesir, pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an mulai tahun 1998-2002.

Halaman
1234
Berita Populer
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved