Sabtu, 11 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Awis, Penerus Ulama Nusantara di Jazirah Arab

Gus Awis melanjutkan tradisi ulama Nusantara yang menulis khazanah ilmu Islam dengan menggunakan bahasa Arab.

Editor: Husein Sanusi
Facebook KH. Afifudin Dimyathi
KH. M. Afifudin Dimyathi bersama Gus Baha' 

Gus Awis, Penerus Ulama Nusantara di Hijaz (Jazirah Arab)

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., MA

TRIBUNNEWS.COM - Peneliti kitab kuning asal Belanda Martin van Bruinessen pada tahun 1990-an, berpendapat, bahwa Ulama Nusantara, khususnya yang berasal dari Indonesia pernah menjadi kiblat keilmuan Islam di negeri Arab (Hijaz) sekitar abad 18 sampai akhir abad 19.

Reputasi itu didapatkan, karena karya-karya mereka yang berbahasa Arab menjadi rujukan ulama dunia. Beberapa diantaranya adalah Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib Minangkabawi, Syaikh Mahfud At-Termasi, Syaikh Junaid Al-Batawi, Syaikh Hasyim Asy’ari Al-Jawi dan lain sebagaianya.

Bahkan Snouck Hurgronje, seorang orientalis terkemuka asal Belanda menulis "Mecca in the latter part of 19th Century," dan mencatat, bahwa ulama-ulama Nusantara kerap menjadi Imam besar dan Mufti Masjidil Haram.

Tradisi menulis dalam bahasa Arab tidak berakhir sampai awal abad ke-20, atau era perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, namun terus berlanjut, tetapi dari segi kuantitasnya amat sedikit.

Karena belakangan, pengaruh dari kalangan ulama modernis atau reformis begitu masif, sehingga kiai-kiai lebih senang menulis dalam bahasa Indonesia, dan sebagian masih mempertahanknya dengan menggunakan Arab pegon, dan yang sedikit itu, DR. KH. M. Afifudin Dimyathi, LC, MA, atau biasa dipanggil Gus Awis, termasuk yang mempertahankan tradisi ulama Nusantara, menulis dengan bahasa Arab di era melenial ini.

Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur 7 Mei 1979. Nasabnya dari jalur ayah, Gus Awis adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli At-Tamimi. Kiai Romli At-Tamim adalah seorang Mursyid (Guru) Thoriqoh Mu’tabaroh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, yang jalur kememursyidannya sampai ke Sulton Auliya' Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga Nabi Muhammad Saw., sementara dari jalur ibu, Gus Awis merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang nasabnya sampai ke Sunan Bonang, Tuban.

Gus Awis, Kiai-Muda yang santun ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Rejoso Jombang (lulus tahun 1991); Kemudian Madrasah Tsanawiyah Progam Khusus Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan (lulus tahun 1994); Lalu Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Jember (lulus tahun 1997); belajar dan menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh K.H Mufid Mas’ud sampai tahun 1998.

Setelah lulus dari MAKN, beliau meneruskan Pendidikan S-1 di al Azhar University Mesir, pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an mulai tahun 1998-2002.

Pada tahun 2002 beliau melanjutkan pendidikan S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language di kota Khartoum Sudan dan Lulus tahun 2004 dengan predikat Cum Laude. Berbekal prestasi lulusan S2 terbaik tingkat Asia, pada tahun yang sama beliau meneruskan pendidikan S3 di al Neelain University jurusan Tarbiyah Konsentrasi Kurikulum dan Metodologi Pengajaran Bahasa Arab dan selesai tahun 2007.

Selain itu, sejak tahun 2006 beliau sudah aktif sebagai dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya dengan mengampu mata kuliah kebahasaan dan tafsir.

Mulai tahun 2007 setelah menyalesaikan program S3, beliau juga turut mengajar di Program Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel dan UIN Maulana Malik Ibrahim dengan mengampu mata kuliah spesialisasi Linguistik, Sosio-Linguistik, Semantik dan Leksikologi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab dan Pengembangan Materi Ajar Bahasa Arab.

Beliau juga ikut Berpartisipasi sebagai pengajar di Program Pasca Sarjana di IAIN Tuluangung, IAIN Jember dan STIT Dalwa Bangil Pasuruan dengan materi bidang kebahasan dan tafsir.

Karya yang pernah ditulis diantaranya adalah Muhadarah fi Ilm Lughah al Ijtima’i (Dar Ulum al Lughawiyah, Surabaya, 2010), Sosiolinguistik (UINSA Press, 2013), Mawarid al Bayan fi Ulum al Qur’an (Lisan Arabi, 2014), Safa al Lisaan fi I’rab al Qur’an (Lisan Arabi, 2015), al-Syamil fi Balaghat al-Quran (3 jilid, 2019), Irsyad al-Darisin ila Ijma’ al-Mufassirin, ‘Ilm al-Tafsir: Ushuluh wa Manahijuhu (Lisan Arabi, 2019), dan Jam’u al-‘Abir fi Kutub al-Tafsir (2 jilid, Lisan Arabi, 2019). Selain diterbitan oleh Lisanul Arabi di Indonesia, buku-buku tersebut juga diterbitkan di Mesir oleh Penerbit Daar As-Saalih dan Darun Nibros, serta beberapa artikel di jurnal-jurnal berbahasa Arab di Indonesia, diantaranya Jurnal el Jadid dan Jurnal LINGUA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved