Rabu, 29 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Awis, Penerus Ulama Nusantara di Jazirah Arab

Gus Awis melanjutkan tradisi ulama Nusantara yang menulis khazanah ilmu Islam dengan menggunakan bahasa Arab.

Tayang:
Editor: Husein Sanusi
Facebook KH. Afifudin Dimyathi
KH. M. Afifudin Dimyathi bersama Gus Baha' 

Pada beberapa kesempatan beliau menyampaikan, bahwa motivasi terbesarnya dalam menulis adalah perjuangan para ulama terdahulu dalam mengabadikan ilmu.

Sebuah ilmu adalah amanah yang harus disampaikan kepada umat dan salah satu caranya adalah dengan menulis. Sebagai penulis yang produktif, beliau mengatakan bahwa ide adalah sebuah amanah dari Allah. Maka dari itu setiap mendapat ide tulisan, beliau akan mencatatnya dan berniat untuk menuangkan ide-ide tersebut dalam bentuk kitab.

Beliau menganggap bahwa hal ini adalah bukti bahwa setiap buku ada pembacanya, setiap buku pasti ada pencarinya.

Dua bukunya yang fenomenal adalah Asy-Syamil fi Balaghatil Quran dan Jam’u al-‘Abir fi Kutub al-Tafsir, karya ini dibaca oleh Mahasiswa yang sedang belajar di Al-Azhar Mesir.

Buku Asy-Syamil membahas nilai kesusastraan al-Quran lengkap mulai dari al-Fatihah hingga an-Annas, dan mengungkapkan beberapa faktor yang membuat al-Quran lebih istimewa dibanding kitab suci lainnya. Faktor-faktor tersebut, terangkum dalam uslub balaghah di kitab tiga jilid yang ia tulis. Pertama, isti’aro yang berarti keserasian makna. Al-Quran jika diperhatikan menggunakan pemilihan kata yang unik sehingga berbeda dengan bahasa buku atau kitab suci lain.

Selanjutnya, tartib yakni ketertiban urutan kalimat yang disusun dalam al-Quran.

Susunan yang rinci dan rapi ini membuat ayat al Quran mudah dicerna. Hal terakhir yang ia sebutkan ialah i’jaz yang berhubungan dengan pemaknaan.

Dalam al Quran, walau lafaznya singkat, pemaknaannya bisa sangat luas. Tentu masih banyak uslub balaghah lainnya. Untuk mendapatkan makna al-Quran baik tersirat mauput tersurat, tidak bisa tidak, maka pintu masuk pemahaman awalnya diantaranya adalah dengan membaca kandungan balaghanya, dan buku ini dengan amat rinci menjelaskannya kata perkata, kalimat perkalimat dan ayat perayat.

Sementara kitab Jam’ul Abir fi Kutubit Tafsir menjelaskan metode penulisan lebih dari 440 kitab tafsir sepanjang sejarah Islam, secara berurutan mulai mufassir zaman sahabat sampai mufassir abad 15 hijriah.

Kitab ini juga mengkaji sejumlah kitab tafsir berbagai aliran yakni Ahlussunnah, Syiah, Mu'tazilah, Khawarij, bahkan sufi dan batiniyah. Dalam Jam’ul Abir, kitab-kitab tafsir dunia juga diurutkan sesuai tahun meninggalnya mufassir.

Ini sangat membantu dalam rangka mengetahui perkembangan studi tafsir sepanjang sejarah Islam.

Dari 440 kitab tafsir yang dibahas, sebagian besar mengenalkan tafsir-tafsir karya ulama Nusantara, dan Asia Tenggara ke dunia Islam.

Tentu saja ini sangat menarik, karena dengan mambaca karya ini, harapannya agar pakar-pakar tafsir di Timur Tengah kontemporer setelah membaca kitab ini bisa mengenal Syekh Abdur Rauf as Sinkili, Kiai Shalih Darat, Mbah Kiai Bisri Musthofa, Mbah Kiai Misbah Musthofa, Syekh Muhammad Said bin Umar al Malaysia, KH Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Shonhaji as-Singapuri dan nama lain, serta mengetahui tafsir yang mereka persembahkan untuk umat Islam di Asia Tenggara.

Kelebihan lain ini juga menampilkan berbagai kitab tafsir dari berbagai bahasa di dunia. Dari mulai Arab, Inggris, Prancis, Urdu, Parsi, Melayu, Indonesia, Jawa, Sunda dan sebagainya.

Dengan karyanya yang begitu banyak, bahkan dicetak di Mesir, negeri yang dikenal dengan menara ilmu islam dan digunakan di almameternya, termasuk di Al-Azhar dan Universitas Khartoum, Sudan, maka beliau layak dianggap penerus ulama Nusantara di Hijaz (Jazirah Arab).

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved