Minggu, 10 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pilihan Cepat Atasi Krisis Utang Kereta Cepat

Dalam dunia bisnis tidak ada yang bisa menghindari kemungkinan mengalami kesulitan finansial.

Tayang:
Editor: Hasanudin Aco
Istimewa
UTANG KERETA CEPAT - Mursalim Nohong, Pengamat Ekonomi Bisnis dan Guru Besar FEB Universitas Hasanuddin, bicara soal utang kereta cepat Jakarta-Bandung yang kini jadi sorotan publik. 

Kesulitan menyelesaikan hutang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penurunan pendapatan akibat krisis ekonomi, perubahan pola permintaan pasar, atau masalah internal seperti manajemen yang tidak efisien. 

Ketika perusahaan tidak dapat membayar utang tepat waktu, kreditur bisa mengambil tindakan hukum misalnya dengan menyita aset perusahaan atau memaksa perusahaan untuk bangkrut.

Oleh karena itu, restrukturisasi utang memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menghindari skenario tersebut dengan mengatur ulang kewajiban utangnya.

Dalam banyak kasus, perusahaan mungkin memiliki utang besar, tetapi arus kas akan tidak cukup untuk memenuhi pembayaran utang tersebut. 

Dalam situasi ini, perusahaan bisa mencari cara untuk mendapatkan likuiditas tambahan, baik dengan memperpanjang jangka waktu pembayaran utang atau menurunkan jumlah pembayaran yang harus dilakukan dalam jangka pendek agar terhindar dari kebangkrutan.

Kebangkrutan bukan hanya merugikan perusahaan, tetapi juga memengaruhi semua pihak yang terlibat, mulai dari pemegang saham, karyawan, pemasok dan pelanggan termasuk negara jika modal awalnya bersumber dari negara. 

Oleh karena itu, restrukturisasi utang sering kali dilihat sebagai langkah terakhir yang diambil oleh perusahaan untuk menghindari kebangkrutan. 

Dengan restrukturisasi utang, perusahaan memiliki kesempatan untuk tetap beroperasi dan memperbaiki kondisi keuangannya dalam jangka panjang.

Tidak Sederhana

Menyoal permasalahan KCIC, beberapa sumber masalah yang harus segera diselesaikan ditengah upaya negosiasi yang tentunya diharapkan berhasil.

Defisit keuangan oleh karena pendapatan operasional dari tiket hanya Rp 1,5 triliun, yang belum cukup untuk menutup biaya bunga pinjaman sebesar Rp 2 triliun per tahun.

Model bisnis yang belum matang karena proyek dibiayai utang besar tanpa sumber pendapatan non-operasional yang kuat. 

Jika arus kas tidak membaik, pemerintah akan dihadapkan pada tiga pilihan sulit. Yakni menambah modal negara, memberi subsidi operasional, atau menjamin utang melalui instrumen fiskal.

Ketiganya merupakan pilihan yang sulit ditengah upaya pemerintah melakukan sejumlah perubahan yang untuk kesejahteraan rakyat. 

Permasalahan lain dengan okupansi sekitar 50–60 persen, Whoosh beroperasi di bawah ambang keberlanjutan.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved