Kamis, 15 Januari 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Quantum Computing Menjadi Game Changer Dunia

Perkembangan teknologi komputer kuantum sedang berada pada ambang lompatan besar dalam sejarah sains dan teknologi.

Editor: Sanusi
HO
Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI, Edi Permadi 

Oleh: Edi Permadi, Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI

TRIBUNNERS - Mungkin sebagian dari kita pernah nonton film yang tersedia di provider film cukup ternama di Indonesia. Film tersebut berjudul Heart of Stone, bila kita nonton film tersebut terlihat begitu powerful-nya sistem yang dimiliki dan bagaimana semua data dapat diakses dengan cepat dan akurat. 

Kita berpikir itu film science fiction belaka, namun dibalik itu dalam waktu yang tidak terlalu lama akan ada kemampuan komputer yang sama dengan film tersebut. Itulah yang disebut komputer kuantum.

Baca juga: 12 Cara Screenshot di Komputer, Lengkap untuk Pengguna Windows dan Mac

 
Apa itu Quantum Computing?

Perkembangan teknologi komputer kuantum sedang berada pada ambang lompatan besar dalam sejarah sains dan teknologi. McKinsey mengartikan komputer kuantum sebagai pendekatan baru terhadap perhitungan yang menggunakan prinsip-prinsip fisika fundamental untuk memecahkan masalah yang kompleks dengan sangat cepat. 

Menurut IBM, komputer kuantum merupakan bidang yang memanfaatkan karakteristik unik mekanika kuantum untuk menyelesaikan persoalan yang ada diluar kemampuan komputer konvensional paling kuat saat ini.

Sederhananya, komputer konvensional bekerja dengan unit data yang disebut bit yang hanya mampu berada pada satu dari dua keadaan, yaitu 0 atau 1. Komputer kuantum menggunakan unit yang disebut qubit. Unit ini mampu berada dalam keadaan 0 dan 1 secara bersamaan.

Melalui mekanisme ini, komputer kuantum memiliki kemampuan untuk melakukan perhitungan pararel secara masif sehingga mampu memproses masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh komputer klasik. Potensi ini menjadikan komputer kuantum relevan untuk berbagai bidang seperti simulasi material, Kesehatan, iklim, ruang angkasa, kriptografi, kecerdasan buatan, dan analisis data dalam skala besar dan kompleks yang tidak mampu diselesaikan dengan teknologi komputer saat ini.

Meski terdengar cukup menjanjikan, namun terdapat beberapa risiko serius terhadap keamanan informasi dan kedaulatan digital. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa sudah memulai langkah ini. Singapore, Filipina dan Thailand di Asia Tenggara juga mengambil langkah membangun supremasi kuantum.

Langkah ini diambil karena disadari bahwa teknologi ini tidak sekedar membawa efisiensi industri, tetapi juga kekuatan strategis yang dapat menentukan arah kekuasaan global dimasa mendatang. Kawasan Asia didominasi oleh Tiongkok yang fokus dalam quantum communication dan Jepang lebih fokus ke quantum sensing. 
 
Ancaman Sistem Digital di Era Quantum Computing

Salah satu ancaman paling serius dengan munculnya komputer kuantum ada pada kemampuannya untuk menembus sistem keamanan digital yang selama ini dianggap aman. Hal ini berkaitan langsung dengan alogaritma Shor, sebuah temuan ilmiah yang berpotensi mengubah paradigma kriptografi modern.

Termasuk standarisasi algoritma RSA (Rivest–Shamir–Adleman) dan kriptografi lainnya saat ini yang digunakan untuk melindungi komunikasi digital saat ini di seluruh dunia. Pada komputer saat ini pemecahan kode keamanan dapat memakan waktu ribuan tahun. Namun, komputer kuantum algoritma ini dapat melakukannya dalam hitungan menit.

Mckinsey memperkirakan di tahun 2030 ada sekitar 5,000 komputer quantum yang sudah beroperasi. Jika hal ini terjadi, maka sistem enkripsi yang selama ini menjadi dasar keamanan digital seperti pengamanan transaksi mobile banking, komunikasi, dan basis data pribadi warga negara berpotensi rentan mengalami kebocoran. Master Card, akhir oktober 2025 ini juga menjelaskan bahwa negara-negara dan perusahaan besar sudah mempersiapkan diri dengan tantangan teknologi quantum yang menjadi game changer di tahun 2030.

Bagi Indonesia, ancaman ini memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan dan keamanan nasional dan perlindungan data publik. Sebagian besar infrastruktur digital seperti sistem keuangan, pertahanan siber, serta layanan publik berbasis daring yang seluruhnya menggunakan teknologi saat ini, jika komputer kuantum mencapai kemampuan komputasional yang cukup kuat, semua sistem ini dapat menjadi target potensial bagi peretesan tingkat tinggi yang dilakukan dengan memanfaatkan prinsip kuantum.

Salah satu ancaman nyata yang perlu diantisipasi adalah kebocoran data berskala masif. Teknologi kuantum berpotensi membuka kunci enkripsi yang melindungi data pribadi seperti sandi email, akun media sosial, password perbankan digital, hingga informasi biometrik yang tersimpan dalam sistem identitas elektronik.

Pada konteks yang lebih luas, kerentanan sistem kriptografi berpotensi menciptakan kondisi yang disebut “crypto-apocalypse” dimana masa ketika seluruh sistem digital tidak lagi dipercaya karena dasar keamanannya yang tidak relevan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok mulai bahkan beberapa negara dia Asia Tenggara sudah mulai menyiapkan alogaritma baru yang disebut post-quantum cryptography (PQC) yang dirancang untuk tetap aman meskipun komputer kuantum telah beroperasi secara penuh.

Baca juga: Volume Trading Pasar Derivatif Kripto di Platform Ini Meroket Hampir 200 Persen

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved