Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Kesalahan Logika Geopolitik Donald Trump dan 3 Skema Perang Iran
Geopolitik Timur Tengah memanas, Iran jadi episentrum konflik, strategi perang AS di bawah Trump dipertanyakan.

APA yang terjadi di Timur Tengah saat ini, dengan tanah Iran sebagai episentrum konflik dan jazirah negara-negara Arab sebagai periferinya, merupakan kaca benggala kesalahan logika geopolitik perang yang dimainkan oleh Amerika Serikat (AS) di bawah rezim pemerintahan Donald Trump.
Hingga pekan keempat peperangan, AS tidak mampu mencapai objektif peperangannya, yakni menggulingkan rezim Mullah yang bertahta di Iran.
Pun, ketika rudal-rudal balistik AS menewaskan supreme leader Ayatullah Rohullah Ali Khamenei. Suksesi di Iran berlangsung cepat dan IRGC tidak sedikitpun menunjukkan kegentaran untuk bertarung dalama jangka panjang dengan AS yang membekingi Israel.
Sementara itu, AS terlihat seperti kehabisan nafas. Permintaan tambahan dana perang 200 miliar dolar kepada kongres menunjukkan bahwa AS mulai kehabisan logistik.
Proposal perdamaian yang ditawarkan Trump kepada Iran juga menjadi sinyalemen bahwa AS tak cukup kuat menanggung risiko geopolitik akibat perang yang mereka kobar sendiri.
Keputusan Trump untuk menyerang Iran secara militer pada penghujung Februari lalu merupakan pilihan yang keliru. AS berpotensi mengulangi dosa sejarah yang pernah mereka buat di Afghanistan pada 2001 dan Irak 2003-karena melanggar hukum internasional dan mencederai prinsip non-intervensi antarnegara.
Alih-alih kemenangan, pada dua palagan tersebut, AS mengeluarkan biaya perang hingga 5 triliun dolar AS, menewaskan lebih dari 7000 prajurit militer, hingga kehilangan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik sebagai konsekuensi rivalitas dengan Rusia dan Tiongkok selama perang berlangsung.
Kini, di Iran, dengan tempus yang lebih singkat dibandingkan dengan kedua perang tersebut, AS telah membakar hingga lebih 50 miliar dolar dalam kurun waktu empat pekan.
Angka tersebut belum termasuk jumlah kerugian masif yang diderita akibat bombardir rudal balistik dan drone Iran terhadap pangkalan militer AS di teluk, sejumlah fasilitas diplomatik, hingga potential loss di bidang ekonomi energi dan perdagangan yang sangat besar akibat blokade Selat Hormuz.
Basa-basi Diplomasi dan Tidak Sesuai Konstitusi
Kekeliruan Trump dalam perang ini dimulai ketika ia menjadikan negosiasi dengan Iran hanya sebagai basa-basi politik saja untuk memulai perang.
Lazim diketahui bahwa perang adalah bentuk diplomasi yang gagal. Keputusan Trump untuk perang dengan Iran lebih banyak disebabkan oleh lobi-lobi politik yang dimainkan oleh Netanyahu dan kelompok Zionis yang selama ini merasa terganggu kepentingannya oleh eksistensi Iran yang kuat di Timur Tengah.
Netanyahu mendorong Trump untuk memasukkan klausul negosiasi yang menyulitkan dan membuat Iran terpojok pada jalan buntu negosiasi. AS dan Israel memaksa Iran untuk bersedia diinspeksi tidak hanya fasilitas pengayaan nuklirnya, tapi juga sistem persenjataan militernya.
Selain itu, AS dan Israel memaksa Iran untuk mengakui secara resmi bahwa Iran berada di belakang gerakan-gerakan milisi anti-Zionis di Timur Tengah. Kedua klausul tersebut ditolak mentah-mentah oleh Iran karena menyinggung kedaulatan nasionalnya.
Kesalahan logika geopolitik perang Trump yang menjerumuskan AS ke lubang perang mematikan di Iran juga terkait dengan mandat konstitusi AS. Kebijakan Trump untuk berperang tidak melalui konsultasi dan persetujuan dengan Kongres AS.
Inilah yang memicu demo besar-besaran No Kings di lebih 30 negara bagian AS dengan jumah demonstran menembus angka lebih dari 8 juta orang.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/boy-anugerah-sip-msi-mpp-1775123560799.jpg)