Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Konflik AS-Iran Masih Berkecamuk, Apa Kabar Perang Rusia vs Ukraina?
Perang AS–Israel vs Iran menyita fokus Washington, membuat konflik Rusia–Ukraina terpinggirkan dan masa depan perdamaian suram.
Namun demikian, Ukraina pernah bergabung dalam Dialog Intensif NATO pada 2005 dan hingga saat ini terus melakukan upaya diplomatik agar bisa bergabung ke dalam NATO. Jauh sebelum Trump menginisiasi Alaska Summit dan memulai dialog dengan Putin, pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden telah menunjukkan keberpihakannya terhadap Ukraina. AS mengecam serangan Rusia ke Ukraina sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan.
Sejak perang pecah pada 2022, Ukraina menjadi penerima bantuan luar negeri AS terbesar—pertama kalinya sebuah negara Eropa menduduki posisi teratas sejak bantuan luar negeri AS dalam skema Marshall Plan pasca PD II.
Dikutip dari analisis Council on Foreign Relations (CFR), per 31 Desember 2025, Kongres AS telah mengalokasikan dana sebesar 188 miliar dolar AS.
Pada akhir 2024, AS juga memberikan pinjaman sebesar 20 miliar dolar AS di luar 188 miliar yang diberikan yang diberikan melalui Bank Dunia.
Dana-dana yang dialokasikan AS untuk Ukraina tersebut sebagian besar ditujukan untuk mendanai perang, membiayai kehadiran militer AS di Eropa, serta mendukung perekonomian Ukraina dan negara-negara sekitar yang terdampak perang.
Kedekatan AS dengan negara-negara Eropa pro-AS juga mampu mendorong negara-negara tersebut untuk menerapkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dalam bentuk paket 16 sanksi sejak 2022. Mediasi alot dan menemui jalan buntu Dinamika yang dimainkan dan dilalui oleh AS dalam memediasi konflik Rusia dan Ukraina terbilang alot.
Persoalan di antara keduanya bukan sekadar berada di ranah gencatan senjata dan distopnya saling serang pasukan militer. Persoalan yang paling krusial adalah soal batas-batas wilayah kedaulatan nasional. Ukraina menginginkan Rusia untuk menarik diri dari Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia sejak 2014.
Ukraina juga meminta Rusia untuk tidak ikut campur dan memberikan dukungan kemerdekaan terhadap gerakan separatis di wilayah Donetsk dan Luhanks. Dua permintaan Ukraina tentu bertolak belakang dengan kepentingan nasional Rusia yang mengklaim Krimea sebagai wilayah kedaulatannya dan menginginkan Ukraina memberikan pengakuan hukum atas- wilayah-wilayah yang diduduki oleh Rusia, termasuk wilayah Donbas timur yang sebagian besar sudah diduduki oleh Rusia.
Dalam konteks geopolitik perang, Rusia juga menentang keras rencana Ukraina untuk bergabung ke dalam NATO karena dapat menggiring “ancaman” militer yang nyata dari negara-negara Atlantik Utara ke halaman belakang Rusia.
Alotnya tarik-menarik kepentingan antara Rusia dan Ukraina pernah membuat AS gusar dan menarik diri dari peran mediasi yang dilakukan. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Juru Bicara Kemenlu AS, Tammy Bruce, pada Mei 2025.
Pada kesempatan konferensi pers di Washington DC tersebut, Tammy menyatakan bahwa AS tetap membantu perdamaian di antara kedua negara, tapi tidak lagi bertindak sebagai mediator utama. Penekanan AS berubah dari mediasi langsung menjadi penekanan pada komunikasi kedua negara berkonflik secara langsung.
Sikap “dingin”AS ini tentu menimbulkan kegusaran dari kedua negara, baik Rusia dan Ukraina. Dalam dinamikanya, sebelum AS terjun dalam peperangan di Timur Tengah pada 28 Februari 2026, AS masih sempat memainkan peran mediasi terakhir pada penghujung Januari 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab—meskipun menemui jalan buntu dan kedua negara masih bertukar serangan militer hingga kini.
Plot Twist Rusia
Kini, di tengah kecamuk perang yang tidak berkesudahan dengan Iran, tentu saja Ukraina tidak lagi menjadi bagan penting dalam struktur bangunan kepentingan nasional AS. AS di bawah Donald Trump mengalami kesalahan kalkulasi dan logika geopolitik dalam memerangi Iran.
AS di bawah Trump kehabisan logistik, mengalami kerusakan aset yang parah di Timur Tengah, mendapat tekanan domestik dan internasional yang besar atas pelanggaran konstitusi dan hukum internasional, serta terancam tidak dapat melanjutkan peperangan karena usulan tambahan dana perang yang ditolak oleh Kongres AS.
Dengan situasi sedemikian, bagi Ukraina khususnya, sulit untuk “memaksa” AS memainkan dukungannya untuk menghentikan serangan Rusia melalui skema mediasi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-perang-ilustrasi-kolonialisme-ihiww.jpg)