Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Minyak dan Perang: Dari Perang Dunia hingga Konflik AS–Iran 2026
Minyak jadi pemicu perang dari Perang Dunia hingga konflik AS–Iran 2026, mengguncang geopolitik global.
Menyusul serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz mulai 4 Maret. Seorang pejabat senior IRGC menegaskan bahwa kapal mana pun yang berani melintasi selat itu akan “dibakar.”
Bukan gertakan kosong, dalam beberapa hari, terjadi lebih dari 21 serangan terhadap kapal-kapal dagang. Lalu lintas tanker anjlok sekitar 70 persen. Lebih dari 150 kapal berlabuh di luar selat, menunggu kepastian yang tidak kunjung datang.
Dampaknya langsung menghantam pasar energi global. Harga minyak Brent, yang sebelum perang berada di kisaran 65–66 dolar per barel, melonjak menembus 100 dolar dalam hitungan hari, kenaikan lebih dari 40 persen.
Pada puncak krisis, Brent menyentuh 105 dolar per barel (https://www.cbsnews.com/17/03/2026). Premi asuransi perang untuk kapal tanker meledak. Houthi di Yaman turut mengumumkan serangan kembali ke jalur Laut Merah, memaksa rute Suez beralih memutar Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Ironi yang telah lama diprediksi para analis akhirnya terbukti. Iran, yang mengandalkan Hormuz untuk mengalirkan lebih dari 90 persen ekspor minyaknya sendiri, kini memblokir urat nadinya sendiri demi tekanan maksimum.
Negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, yang bersama-sama menyerap hampir 70 persen minyak yang melintasi selat itu, mendapati diri mereka tersandera konflik yang bukan urusan mereka.
Inilah wujud paling nyata dari apa yang pernah diperingatkan para ekonom energi. Penutupan Hormuz bukan sekadar krisis minyak, melainkan guncangan sistemik yang “tidak hanya akan membuat harga melonjak, tetapi melonjak secara kekerasan karena ketakutan semata,” sebagaimana diungkapkan Ali Vaez dari International Crisis Group.
Gelombang kejutnya menjalar ke pasar keuangan, memperketat kondisi kredit global, memicu inflasi, dan mendorong ekonomi-ekonomi rapuh ke ambang resesi.
Menuju Dunia Pasca-Minyak?
Di tengah semua ini, suara-suara yang menyerukan diversifikasi energi semakin keras. Laksamana Madya James G. Foggo III, dalam kata pengantar edisi 2021 buku Oil & War karya Robert Goralski, menegaskan perlunya investasi serius pada energi angin, surya, air, dan nuklir agar minyak tidak pernah lagi bisa dijadikan senjata melawan negara-negara yang bergantung padanya.
Namun kenyataan di lapangan masih jauh dari visi itu. Tekanan krisis selalu mendorong negara-negara kembali ke sumber daya yang sudah terbukti andal, betapapun kotornya.
Minyak adalah berkah yang menggerakkan peradaban, sekaligus kutukan yang menjebaknya.
Selama dunia masih bergantung pada satu sumber energi tunggal yang terbatas dan tidak merata distribusinya, selama itu pula minyak akan terus menjadi alasan perang, alat kekuasaan, dan titik lemah terbesar peradaban manusia.
Biodata Singkat Penulis
Nama : Mudofir
Nama Pena : Mudhofir Abdullah
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kompleks-kilang-minyak-di-Iran-yang.jpg)