Rabu, 15 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Bahlil dan Geopolitik Bung Karno 

Sektor energi serta sumber daya mineral tidak lagi dipandang secara simplistis sebagai persoalan teknis ekstraksi komoditas semata.

dok. Kementerian ESDM
PASOKAN ENERGI NASIONAL - Guna memperdalam pembahasan teknis, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada hari Selasa (14/4) melakukan tatap muka langsung. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya. 

Apa yang dilakukan saat ini dapat dibaca sebagai upaya membalikkan struktur ketergantungan yang selama ini mengakar dalam sistem ekonomi global.

Hilirisasi bukan sekadar agenda ekonomi, melainkan "working ideology" dari Pancasila, khususnya Pasal 33 UUD 1945. Tujuannya jelas: memastikan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Dengan memaksa perusahaan-perusahaan besar untuk membangun smelter dan melakukan pengolahan di dalam negeri, Bahlil sebenarnya sedang memutus rantai ketergantungan pada kekuatan asing sebuah manifestasi nyata dari Geopolitik Bung Karno di era modern.

Upaya mengurangi ketergantungan impor energi, meningkatkan produksi dalam negeri, serta memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi energi global juga adalah bentuk nyata perlawanan terhadap praktik neo kolonialisme modern. 

Langkah Bahlil yang mewajibkan SPBU asing untuk mengikuti aturan nasional, termasuk dalam hal distribusi dan impor bahan bakar minyak (BBM), juga merupakan bentuk afirmasi kedaulatan negara atas sektor energi.

Hal ini tercermin dari kebijakan pembatasan impor BBM serta dorongan agar seluruh SPBU- termasuk milik asing- menggunakan pasokan dalam negeri, khususnya dari Pertamina. 

Kapabilitas Energi dan Tantangan Masa Depan

Secara data, potensi energi Indonesia sangat masif. Produksi energi primer nasional pada tahun 2024 mencapai sekitar 25,6 juta terajoule, dengan kapasitas pembangkit listrik melampaui 100 gigawatt pada tahun 2025.

Namun, perlu mengingatkan bahwa kapasitas besar tidak berarti apa-apa tanpa kapabilitas negara untuk mengelolanya secara mandiri.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar, seperti produksi minyak domestik yang berada di kisaran 600 ribu barel per hari sementara konsumsi terus meningkat.

Ketergantungan pada impor minyak fosil adalah celah dalam kedaulatan kita. Oleh karena itu, langkah sang menteri dalam merancang transisi energi menuju energi terbarukan yang berkeadilan menjadi sangat vital.

 

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved