Tribunners / Citizen Journalism
Menyikapi Transisi Menuju Dunia Multipolar
Dunia multipolar menempatkan AS bukan lagi sebagai pemain tunggal (monopoli). Terdapat negara lain yang ikut mengendalikan perekonomian global.
Indeks penggunaan mata uang yuan China tidak sejalan dengan dominasi China dalam perdagangan global.
Pada tahun 2000-an awal, nilai perdagangan internasional China sebesar 474 milyar dollar AS, empat kali lebih kecil dari nilai perdagangan internasional AS sebesar 2,0 trilyun dollar AS.
Namun, sejak tahun 2012, perdagangan internasional China sudah melampaui perdagangan internasional AS.
Hingga tahun 2024, nilai perdagangan internasional AS sebesar 5,3 trilyun dollar AS. Lebih kecil dari nilai perdagangan internasional China yang mencapai 6,2 trilyun dollar AS.
Kondisi ini kontras dengan penggunaan mata uang yuan China sebagai cadangan devisa global yang hanya 1,95 triyun dollar AS tahun 2025.
Sementara, penggunaan dollar AS sebagai cadangan devisa global mencapai 56,77 persen. Turun sekitar 14,42 persen dalam 10 tahun terakhir dari 71,19 persen.
Lalu, pertanyaannya, apakah transisi dari dunia unipolar yang dimonopoli AS dengan mata uang dollar AS menuju dunia multipolar semakin cepat akibat perang AS dan Israel melawan Iran serta kebijakan tarif resiprokal Trump?
Apakah yuan China akan menjadi mata uang dominan secara global? Apa implikasinya bagi Indonesia.
Sejalan dengan ekonom senior AS, Nouriel Roubini pada Mei 2023 menyebutkan bahwa sistem cadangan devisa global sedang mengalami perubahan, yaitu dari unipolar yang didominasi oleh dollar AS menjadi multipolar dengan tiga atau lebih mata uang utama global, yaitu dollar AS, euro Uni Eropa dan yuan China.
Ketiga perekonomian tersebut berkontribusi hampir separuh perdagngan global, yaitu sekitar 45 persen.
Perekonomian AS berkontribusi sekitar 13 persen, China 15 persen dan Uni Eropa 17 persen terhadap perdagangan dunia pada tahun 2024.
Selanjutnya, terkait dengan peran mata uang yuan China dalam transaksi internasional, belum akan menggeser dollar AS sebagai mata uang dominan dalam jangka pendek. Hal ini terkait dengan kebijakan bank sentral China yang mengontrol lalu lintas modalnya.
Kebijakan capital control melahirkan isu kebebasan menkonversi asset dalam yuan China ke asset dalam mata uang lainnya.
Bank sentral China mengawasi konversi mata uang dari yuan China ke dollar AS atau lainnya. Atau sebaliknya, dari dollar AS ke yuan China.
Kebijakan ini didasarkan pada kerangka impossible trinity atau trilemma kebijakan moneter yang menyatakan bahwa suatu negara tidak mungkin mencapai tiga tujuan sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yaitu kestabilan nilai tukar, independensi kebijakan moneter dan kebebasan arus modal.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BENDERA-AMERIKA-SERIKAT-6688997.jpg)