Kamis, 14 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Membaca Makna di Balik Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Purnawirawan TNI

Menhan Sjafrie kumpulkan jenderal aktif & purnawirawan TNI, bahas strategi pertahanan & kewaspadaan nasional.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Tribunnews.com/Igman Ibrahim
MENHAN KUMPULKAN MILITER - Momen Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan deretan mantan Panglima TNI dan sesepuh militer di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026). 

Sebagai “tangan kanan” Presiden Prabowo dalam urusan pertahanan negara, Menteri Sjafrie membutuhkan counterparts yang sepadan untuk merumuskan solusi taktis dan strategis ke depan. Oleh sebab itu, saran, masukan, dan pengalaman dari para pemangku kepentingan periode-periode sebelumnya sangat dibutuhkan.

Dalam konteks meredam aksi unjuk rasa menolak multifungsi TNI di pemerintahan saat ini, Menteri Sjafrie membutuhkan pandangan Gatot Nurmantyo yang berpengalaman dalam menghadapi unjuk rasa sipil. Tuntutan agar TNI saat ini lebih humanis dan demokratis dalam membantu Polri menghadapi unjuk rasa masyarakat bukanlah perkara yang mudah.

Habituasi TNI sebagai alat tempur menjadikan para prajurit TNI terbiasa untuk melakukan aksi-aksi koersif yang menjadi ciri khas mereka. Dalam konteks inilah, pengalaman Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI yang mampu mengendalikan unjuk rasa 212 pada 2016 sangat dibutuhkan.

Aksi penyiraman air keras yang dilakukan oleh empat prajurit Bais TNI bulan Maret lalu terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus adalah tamparan serius bagi marwah TNI sebagai penjaga kedaulatan nasional.

Banyak yang berpandangan bahwa TNI yang seharusnya melindungi warga negara, justru menjadi momok menakutkan bagi warga sipil yang kritis terhadap pemerintah. Dalam konteks ini, Menhan Sjafrie membutuhkan masukan dari Andika Perkasa. Semasa menjabat sebagai Panglima TNI dari November 2021 hingga Desember 2022, Andika sangat keras dalam menegakkan disiplin dan profesionalisme prajurit.

Andika bahkan tak segan untuk menegur secara keras jajarannya yang tak siap mengikuti rapat, hingga memberikan sanksi disiplin yang tegas bagi para prajurit yang melakukan pelanggaran hukum di masyarakat. Dalam konteks ini, saran dan masukan Andika sangat dibutuhkan Menhan Sjafrie untuk mendisiplinkan para prajurit agar tetap berada dalam koridor profesionalisme sebagai prajurit militer.

Dengan tidak menegasikan kehadiran tokoh-tokoh lainnya, kehadiran Agum Gumelar tentu yang paling menarik perhatian. Kehadiran tokoh yang memiliki rekam jejak panjang sebagai Danjen Kopassus, Gubernur Lemhannas RI, berbagai posisi menteri di kabinet, serta Ketua Umum DPP Pepabri Periode 2022-2027 menarik untuk dicermati dan diinterpretasikan.

Kehadiran Agum adalah langgam perwakilan senioritas mengingat Agum adalah senior Menhan Sjafrie di militer. Kehadiran Agum tentu bernilai paling strategis dibandingkan dengan nama-nama besar senior lainnya mengingat saat ini Agum menduduki posisi ketua umum organisasi para purnawirawan TNI-Polri.

Makna dan Pesan Politis

Ada unsur politis yang sangat kuat di sini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak semua purnawirawan militer sepakat dengan kebijakan Presiden Prabowo. Lebih spesifik, tidak semua pensiunan jenderal mendapatkan posisi strategis di pemerintahan Presiden Prabowo.

Maka dari itu, pertemuan dengan Agum dapat dimaknai sebagai upaya untuk mencegah adanya riak, serta menjaga soliditas di antara para petinggi militer tanah air. Ada pesan kuat yang hendak disampaikan dengan mengundang Agum, yakni meskipun tidak semua diwadahi dengan jabatan strategis, tapi setidaknya pemikiran dan pandangan mereka dihargai oleh pemerintah.

Hal ini penting mengingat kritisisme para jenderal pensiunan sangat tajam dan menukik sejak awal naiknya Presiden Prabowo pada 2024—mulai dari penolakan terhadap Wapres Gibran, hingga penolakan terhadap kebijakan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) bentukan Amerika Serikat.

Pertemuan para pesohor militer yang digagas oleh Menhan Sjafrie ini patut diapresiasi sebagai bentuk konsolidasi soliditas dan kekuatan militer dalam konteks kewaspadaan nasional.

Apa yang diserap oleh Menhan Sjafrie dan juga Panglima TNI Agus Subiyanto dalam pertemuan tersebut seyogianya akan menjadi masukan positif agar TNI lebih profesional dan handal dalam menjalankan tugasnya sebagai alat tempur dan komponen utama pertahanan negara. Pertahanan negara yang kuat dan solid menjadi modal dasar dalam pelaksanaan dan pencapaian target-target pembangunan nasional ke depan. 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved