Minggu, 10 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia, Victory Day, dan Mimpi Pax Russica

Rusia peringati Victory Day 9 Mei dengan parade militer di Moskow dan acara diplomatik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Dok Pribadi
Profile Tribunners: Boy Anugerah - Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI & Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF) 

Rusia juga mewarisi sistem persenjataan Uni Soviet yang masif dan canggih, sehingga menempatkannya sebagai negara berkekuatan nuklir dunia, setara dengan AS dan sekutu-sekutunya. Ketika dunia disibukkan oleh diskursus mengenai munculnya Pax Sinica sebagai antitesis Pax Americana melalui kebangkitan Tiongkok dengan ekonomi dua digitnya dalam dua dekade terakhir, Rusia sudah membangun Pax Russica jauh sebelum Tiongkok melakukannya.

Posisi Rusia yang sangat kuat hari ini, yang notabene adalah mitra strategis bagi Tiongkok sendiri, lawan yang diperhitungkan secara serius oleh AS, produsen energi tempat negara kawasan bergantung, serta membangun poros militer dan geokonomi dalam bentuk Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan BRICS+, merupakan langkah terukur dan sistematis dalam membangun Pax Russica tersebut.

Dalam konteks memelihara eksistensinya, serta memastikan agar peta jalan Pax Russica tetap berjalan secara progresif, Rusia tidak akan menolerir setiap ancaman terhadap kedaulatannya. Hal ini jugalah yang memantik Rusia untuk melakukan serangan militer ke Ukraina pada 2022 terkait niat Ukraina menjadi anggota NATO.

Bagi Rusia, bergabungnya Ukraina ke dalam NATO berarti menjadikan “halaman belakang” Rusia sebagai moncong meriam yang siap menghancurkan Rusia sendiri. Bagi Rusia, Ukraina adalah halaman belakang yang vital dalam menyangga keamanan Rusia, terlepas dari aspek historis masa lalu yang melekat. 

Bergabungnya Ukraina ke dalam NATO, bukan hanya menjadi ancaman geopolitik dan militer yang serius bagi Rusia, tapi juga tamparan keras bagi kepemimpinannya di bekas negara-negara Soviet. Bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, Rusia dapat menjadi pembelajaran penting nan menarik tentang sebuah negara yang persisten dalam mempertahankan eksistensinya di kancah geopolitik dunia. Kebesaran Soviet sebagai imperium politik mampu diwarisi dengan membangun imperium baru yang lebih modern dan sesuai perkembangan zaman.

Terlepas dari apa pun kritik dunia terhadap otoritarianisme yang masih melekat di negara ini, dunia perlu berterima kasih atas balancing of power yang dimainkan oleh Rusia terhadap AS. Tanpa perimbangan kekuatan yang dimainkan oleh Rusia, dunia akan sangat mudah tergelincir dalam unipolarisme yang dimainkan oleh AS, seperti yang ditunjukkan dalam kasus perang AS-Iran saat ini. 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved