Selasa, 19 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Gen Z Cerdas, Cermat dan Keberanian yang Tidak Kita Wariskan

Mereka yang berwenang atas lomba tentang Pancasila justru mempertontonkan sila kelima masih bisa masuk ranah tawar-menawar.

Tayang:
tangkapan layar
LOMBA CERDAS CERMAT - Video Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi sorotan publik setelah beredar di media sosial. Jannus TH Siahaan menyoroti perhatian warganet tertuju pada keputusan dewan juri yang memberikan nilai berbeda terhadap dua jawaban yang dinilai serupa dari peserta lomba. Yang paling menggelikan, mereka yang berwenang atas lomba tentang Pancasila ini justru mempertontonkan bahwa sila kelima pun rupanya masih bisa masuk ranah tawar-menawar. Bukan sebagai serangan personal, hanya sebuah catatan struktural.  

Riset dari Yayasan Into The Light Indonesia (2022) menemukan bahwa lebih dari sepertiga anak muda pernah memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga melaporkan peningkatan kasus kecemasan klinis pada remaja pascapandemi, dengan sebagian besar baru terdeteksi justru setelah anak-anak itu terlambat ditangani. 

Kita bicara tentang generasi yang tumbuh di era di mana semuanya terlihat sempurna di layar, sementara di balik layar faktanya sungguh rapuh dan semuanya bisa runtuh kapan saja. 

Mereka dibesarkan oleh algoritma yang memang dirancang untuk menciptakan perbandingan sosial tanpa akhir — di mana validasi diri diukur dari jumlah likes, dan kecemasan datang dalam bentuk notifikasi yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Belum lagi tekanan ekonomi yang menggantung di atas kepala. Gelar sarjana tidak lagi menjamin masa depan, dan kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. 

Generasi yang masuk pasar kerja di tengah PHK massal sektor teknologi global dan stagnasi upah riil di banyak negara — termasuk Indonesia — tentu memikul kalkulasi hidup yang berbeda dari generasi orang tuanya.

Dan terlalu sering, migran digital  yang generasi X ; generasi saya , menonton dari pinggir panggung lalu dengan cepat  dan entengnya berkata: generasi sekarang lemah, manja, tidak tahan banting. 

Kita lupa bertanya apa yang membentuk mereka, sebelum kita menghakimi siapa mereka sebenarnya. 

Baca juga: Profil SMAN 1 Pontianak, Sekolah Top yang Viral karena Lomba Cerdas Cermat MPR

Gen Z tidak memilih untuk lahir di era ini, sama seperti kita tidak memilih untuk lahir di era kita atau lahir berlatar suku dan ras tertentu — dan setiap era punya tekanannya sendiri yang tidak bisa dibandingkan seenaknya begitu saja.

Karena itu, satu hal perlu digarisbawahi dengan tegas: Ocha tidak bisa dan tidak boleh dijadikan standar penilaian untuk semua Gen Z. Setiap perjuangan punya konteks dan medannya sendiri. 

Seorang anak muda yang hari ini tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena depresi bukan lebih lemah dari Ocha — ia hanya sedang bertarung di arena yang berbeda, dan keberaniannya juga nyata, meski tidak tersorot kamera dan tidak viral.

Sejarah mencatat bahwa pemuda selalu menjadi titik temu antara keberanian dan perubahan yang lebih besar dari dirinya sendiri. 

Pada 1928, anak-anak muda berusia belasan dan dua puluhan tahun berkumpul dan menyatakan satu identitas kolektif — di tengah tekanan kolonial yang jauh lebih nyata dari sekadar tekanan algoritma. 

Pada 1966, mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan menjadi bagian dari pusaran yang akhirnya mengubah arah politik republik. 

Pada 1998, generasi yang lahir di era Orde Baru turun ke jalan dan membuktikan bahwa kekuasaan tiga dekade pun bisa runtuh, manakala cukup banyak orang memilih untuk tidak diam.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved