Selasa, 19 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Gen Z Cerdas, Cermat dan Keberanian yang Tidak Kita Wariskan

Mereka yang berwenang atas lomba tentang Pancasila justru mempertontonkan sila kelima masih bisa masuk ranah tawar-menawar.

Tayang:
tangkapan layar
LOMBA CERDAS CERMAT - Video Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi sorotan publik setelah beredar di media sosial. Jannus TH Siahaan menyoroti perhatian warganet tertuju pada keputusan dewan juri yang memberikan nilai berbeda terhadap dua jawaban yang dinilai serupa dari peserta lomba. Yang paling menggelikan, mereka yang berwenang atas lomba tentang Pancasila ini justru mempertontonkan bahwa sila kelima pun rupanya masih bisa masuk ranah tawar-menawar. Bukan sebagai serangan personal, hanya sebuah catatan struktural.  

Pemuda selalu punya cara untuk mengatakan cukup. Spiritnya tidak pernah benar-benar padam, hanya berganti bentuk dan medium. Apa yang dahulu disampaikan dari mimbar dan jalanan, hari ini disampaikan dari panggung lomba cerdas cermat yang direkam dan ditonton jutaan orang dalam semalam.

Ocha bukan aktivis dengan agenda besar. Ocha bukan pahlawan dengan jubah dan narasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia adalah siswi kelas 11 yang pada hari itu hanya ingin timnya diperlakukan secara adil — dan ia menyampaikannya dengan cara yang semakin jarang sekali kita lihat belakangan ini: berani sekaligus santun, kritis sekaligus bermartabat.

Rekam jejaknya pun berbicara sendiri. Ia pernah menjadi juara pertama LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional pada 2025 — sebelum kemudian justru mengalami ketidakadilan di lomba yang sama, setahun berikutnya. 

Ironi yang tidak perlu dibuat-buat, dan justru karena itulah momen itu terasa begitu menohok bagi siapapun yang menontonnya.

Yang membuat peristiwa itu begitu kuat justru karena Ocha tidak melakukan apa-apa yang dramatis. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak, tidak menyerang secara personal — dan tetap mengemukakan pendapatnya dengan bahasa yang terukur serta logika yang jernih, ia mempertahankan posisinya di hadapan seseorang yang jelas memiliki otoritas jauh lebih besar dan terkesan otoriter. 

Banyak orang berani tapi kasar, atau santun tapi akhirnya diam — Ocha memperlihatkan bahwa keduanya bisa hadir dalam satu napas.

Dan kemudian yang terjadi setelahnya adalah pemandangan yang juga perlu kita catat, dengan senyum tipis. MPR menonaktifkan dewan juri dan MC. Ketua MPR mengumumkan ajang final akan diulang. Anggota DPR menelepon SMAN 1 Pontianak langsung, menawarkan beasiswa S1. Wakil Presiden mengundang mereka ke Istana di Jakarta. 

Semua ini terjadi setelah video viral — bukan sebelum peristiwa menjadi obrolan luas di ruang publik, bukan karena sistem bekerja dengan sendirinya, tapi karena jutaan pasang mata memaksa sistem untuk bergerak. 

Maka pertanyaannya sederhana dan perlu diajukan pelan-pelan: ke mana semua perhatian itu sebelum ada jutaan tayangan?

Meski begitu, SMAN 1 Pontianak memilih jalan yang lebih elegan. Mereka menolak ikut final ulang, menghormati hasil yang sudah ditetapkan, dan mendukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat ke tingkat nasional. 

Tidak ada dendam yang ditampilkan, tidak ada kemenangan yang diklaim berlebihan — dan itu bukan kelemahan, itu adalah kedewasaan yang tidak semua pihak mampu tunjukkan bahkan dalam situasi yang jauh lebih tidak menekan dari situasi ini.

Baca juga: Cerdas Cermat dan Erosi Zona Aman Intelektual Pendidikan Kita

Sebagai generasi X, jujur saja — kami tidak selalu mudah mengakui bahwa orang yang lebih muda bisa mengajari kami sesuatu yang penting. Kami terbiasa dengan pilihan sikap menjadi pihak yang lebih berpengalaman,  yang sudah makan asam garam, yang selalu punya nasihat lebih bijak untuk diberikan. 

Tapi malam pertama kali saya menonton video Ocha itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dada — sesuatu yang lebih dekat dengan rasa malu, sekaligus harapan.

Dan untuk Gen Z yang membaca opini sederhana saya ini — bukan hanya Ocha, tapi semua yang sedang berjuang dalam diam, yang merasa tidak ada yang benar-benar mengerti, yang lelah menjelaskan kenapa hidup terasa berat padahal dari luar terlihat "sudah cukup beruntung" — ada sesuatu yang perlu disampaikan dengan jujur. 

Kamu Gen Z tidak lemah hanya karena kalian merasa lelah. Kamu tidak gagal hanya karena kamu butuh istirahat. Dan kamu tidak perlu viral dulu untuk layak didengar.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved