Rabu, 20 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Melemahnya Rupiah Terhadap Dolar: Spekulatif Pasar vs Fundamental Ekonomi Indonesia

Ekonomi global kini bukan hanya perang produksi dan perdagangan, tetapi juga perang persepsi, yang berisiko membuat masyarakat lupa fondasi sejati.

Tayang:
Tribunnews/JEPRIMA
DOLAR AS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah dalam beberapa waktu terakhir. 

Tetapi di tengah tekanan itu, dolar justru tetap menguat.

Mengapa?

Karena dolar bukan sekadar mata uang. Ia adalah simbol kekuasaan global.

Dominasi dolar hari ini juga tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui sejarah panjang perubahan sistem ekonomi dunia.

Pada tahun 1971, Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas—mengakhiri sistem Bretton Woods yang sebelumnya menjadikan emas sebagai jangkar nilai mata uang dunia.

Sejak saat itu, dunia memasuki era uang fiat modern: nilai mata uang tidak lagi ditopang emas, melainkan oleh kepercayaan terhadap negara penerbitnya.

Banyak pihak saat itu memperkirakan dolar akan melemah. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Amerika memperkuat dominasi geopolitik, perdagangan global, pasar keuangan, dan sistem petrodollar yang membuat hampir seluruh dunia tetap membutuhkan dolar.⁵

Sejak itulah ekonomi global bergerak dalam satu kenyataan baru: nilai mata uang dunia semakin dipengaruhi bukan hanya oleh produksi riil, tetapi juga oleh persepsi, arus modal, dan psikologi pasar internasional.

Barry Eichengreen menyebut posisi dolar sebagai exorbitant privilege—hak istimewa luar biasa yang membuat Amerika Serikat mampu mempertahankan dominasi moneternya bahkan ketika fondasi ekonominya sendiri sedang mengalami tekanan.

Dunia masih menggunakan dolar untuk perdagangan minyak, utang internasional, cadangan devisa, hingga transaksi perdagangan global. Ketika dunia takut, modal internasional mencari tempat yang dianggap paling aman. Dan sampai hari ini, dolar masih memegang posisi itu.

Di sinilah banyak negara berkembang terkena dampak bukan semata karena ekonominya runtuh, tetapi karena arus modal global bergerak sangat spekulatif menuju aset dolar.

Karena itu, membaca pelemahan rupiah harus dilakukan secara jernih dan proporsional.

Melemahnya rupiah memang tidak boleh dianggap sepele. Indonesia masih memiliki ketergantungan impor pada sejumlah sektor strategis seperti energi, bahan baku industri, alat kesehatan, teknologi, farmasi, hingga sebagian kebutuhan pangan dan pakan ternak.

Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat, harga pupuk terdorong naik, logistik menjadi lebih mahal, industri menghadapi tekanan biaya, dan inflasi perlahan ikut bergerak.

Tetapi kesalahan terbesar adalah ketika masyarakat menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah otomatis berarti Indonesia sedang menuju kehancuran ekonomi.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved