Tribunners / Citizen Journalism
Ujian Tata Kelola Energi atas Ancaman Hormuz bagi Kelas Menengah
Kelas menengah kembali berada di titik rentan saat konflik Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi nasional.
Ego kelembagaan di lapangan seringkali muncul dalam bentuk benturan teknis, mulai dari tumpang-tindih izin galian hingga lambannya koordinasi pemindahan utilitas publik antarinstansi.
Ahli tata kelola aparatur negara, Eunike Prapti Lestari, menjelaskan bahwa nilai kolaboratif dalam komponen nilai utama BerAKHLAK sebenarnya dirancang untuk meruntuhkan sekat birokrasi agar kerja sama berjalan lebih terintegrasi. Namun, tantangan utamanya terletak pada bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi budaya kerja nyata di setiap unit organisasi.
Dalam konteks perluasan jargas, peran pemimpin di tiap wilayah operasional menjadi sangat menentukan karena mereka dituntut mampu menyesuaikan pola koordinasi dengan karakter sosial dan budaya lokal.
Efektivitas koordinasi di lapangan inilah yang pada akhirnya menentukan apakah jargas dapat segera mengalir ke rumah tangga atau justru kembali menghadapi penundaan implementasi.
Sebab, jika komitmen koordinasi di tingkat operasional lapangan saja gagal dieksekusi, lantas kepada siapa lagi kelas menengah harus menggantungkan harapan perlindungan energinya?
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ekspansi-jargas-domestik-sebagai-bantalan-perlindungan-energi-rumah-tangga.jpg)