Tribunners / Citizen Journalism
Trust Pesantren Melemah: NU Antara Diam, Lelah, dan Jalan Pulang
Di kalangan pesantren mu’tabar muncul kegelisahan senyap. Jika sebuah lembaga belum layak disebut pesantren, mengapa diiklankan sebagai pesantren?
Mereka merawat ketahanan nasional bukan sekadar lewat upacara seremonial Hari Santri, melainkan melalui dakwah nyata di tapal batas, mengajak warga bertani, beternak, dan menggerakkan ekonomi berbasis budi pekerti.
Baca juga: Gus Ipang Wahid: Pesantren Didorong Jadi Inkubator Talenta Digital dan Teknologi
NU yang Terlalu Sibuk "di Atas"
Situasi dilematis ini memicu kritik internal. NU—melalui PBNU—yang lahir dari rahim pesantren justru terlihat sibuk mengurus hal-hal elitis: pendirian SPPG-MBG, diskursus peradaban dunia, pengetatan sistem organisasi, hingga tata kelola tambang batu bara.
PBNU terkesan kurang hadir di tengah dinamika pesantren akar rumput.
Tentu, program-program PBNU tersebut tidak sepenuhnya salah.
Mengurus masalah kebangsaan, ekonomi, dan digitalisasi organisasi tetap penting.
Namun, ada kesan kuat bahwa PBNU meninggalkan aspek keagamaan dan kejam'iyyahan yang mendasar.
Tak heran jika muncul anekdot: “NU besar di batang dan dahan, tapi mengerut dan rapuh di akar.”
Padahal, basis legitimasi NU adalah pesantren.
Jika basis ini rapuh karena tekanan bertubi-tubi tanpa adanya perlindungan, maka struktur di atasnya pun pasti ikut goyah.
PBNU harus kembali pada jati dirinya: mengoordinasi dan mengorkestrasi program pelayanan bersama pesantren.
NU bukanlah ormas dengan orientasi business as usual.
PBNU memiliki perangkat kerja yang melimpah dan bisa membentuk tim ad hoc untuk urusan taktis.
Semangat PBNU mengurus tambang dengan mengesampingkan tugas utamanya di pesantren ibarat membangun gedung pencakar langit di atas tanah yang retak.
Baca juga: Ashari Kiai Cabul Pati Ditangkap, Menteri PPPA: Pesantren Harus Kembali Bermartabat
5 Langkah Praktis Mengembalikan Marwah Pesantren
Marwah jam’iyyah NU adalah harga diri pesantren. Keduanya tidak bisa dipisahkan secara diametral.
Untuk memulihkan krisis kepercayaan ini, klarifikasi media saja tidak cukup. PBNU harus merintis "jalan pulang" secara cepat dan terukur melalui lima langkah konkret berikut:
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KH-Abdussalam-Shohib-34.jpg)