Kamis, 4 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Rupiah yang Digerakkan Sentimen

Sepanjang paruh pertama 2026, layar perdagangan rupiah menampilkan drama yang menjemukan: melemah, sedikit bernapas, lalu kembali tersungkur

Tayang:
Editor: Dodi Esvandi
HO/IST
Rijadh Djatu Winardi, Direktur Ekonomi Evident Institute 

Porsi kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) merosot drastis menjadi hanya 12,75 persen pada 2026, menyusut tajam dibanding 38,6 persen pada 2019. 

Hanya dalam tiga minggu pertama Januari 2026, modal asing yang kabur mencapai US$1,6 miliar. 

Ditambah dengan sentimen penyesuaian (rebalancing) indeks MSCI, SBN dan IHSG ditekan bersamaan. Pasar kita yang tipis pun mengalami pendarahan ganda (dual-channel outflow).

Baca juga: Menkeu Purbaya Sebut Rumor di Pasar Jadi Penyebab Rupiah Melemah Hampir Sentuh Rp 18.000

Dominasi Sentimen dan Ambang Batas Fiskal

Ketika rupiah menyentuh level Rp17.800-an, kita harus menerima realitas baru: kurs tidak lagi digerakkan oleh logika matematika fundamental, melainkan oleh psikologi massa bernama sentimen.

Pasar valuta asing rupiah tergolong dangkal. Survei Bank for International Settlements (BIS) mencatat rupiah hanya mencakup 0,6 persen dari total transaksi valas global. 

Di pasar yang tipis seperti ini, volume penjualan yang kecil saja sudah cukup untuk menjatuhkan harga secara drastis. Sentimen negatif langsung menjelma menjadi vonis hancurnya harga.

Sentimen pesimistis ini tidak lahir dari ruang hampa. Ada dua sumber keraguan yang membuat investor memilih angkat kaki:

Pertama, kecemasan terhadap arah kebijakan fiskal.

Secara historis, investor Indonesia sangat sensitif terhadap angka keramat: batas defisit fiskal 3 persen PDB. 
Selama dua dekade pascakrisis 1998, angka ini adalah simbol disiplin iman fiskal pemerintah. 

Jika defisit melebar di bawah batas itu, pasar menganggapnya wajar. 

Namun, begitu angka itu didekati atau dilompati, persepsi pasar langsung berbalik agresif.

Kita punya preseden saat pandemi. Defisit APBN melonjak ke 6,1 persen PDB pada 2020, memicu rupiah sempat menyentuh Rp16.000. 

Ketika defisit berhasil ditekan kembali ke kisaran 4 persen pada tahun berikutnya, rupiah langsung jinak ke level Rp14.000-an.

Kini, pola yang sama berulang. Defisit APBN 2025 mencapai 2,92 persen PDB—tertinggi pascapandemi. 

Ketika realisasi kuartal I-2026 menyentuh 0,93 persen PDB, pasar langsung mengalkulasi bahwa defisit tahunan bisa bengkak ke angka 3,5 hingga 4 persen PDB.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved