Jumat, 29 Agustus 2025

Neneng Tertangkap

Kisah Mantan TKI: Lewat Pelabuhan Tikus Taruhannya Maut

Menurutnya, yang berani berangkat atau pulang melalui ‘pelabuhan tikus’ adalah kaum laki-laki. Apabila ada, mungkin bisa dihitung dengan jari.

Editor: Dewi Agustina
zoom-inlihat foto Kisah Mantan TKI: Lewat Pelabuhan Tikus Taruhannya Maut
TRIBUN Batam/TRIBUN Batam
Neneng (tengah) mengunakan cadar berjalan bersama Muhamad Hasan (depan), dan Chamila (kiri) serta dibelakang R Azmi Muhamad Yusuf terekam Kamera CCTV Bandara Bandara Hang Nadim Batam. Selasa (13/6/2012) (TRIBUN Batam)

Laporan Wartawan Tribun Batam, Candra P. Pusponegoro

TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Drama kepulangan Neneng Sri Wahyuni ke tanah air Selasa (12/6/2012) cukup luar biasa. Neneng masuk ke wilayah Batam Kepulauan Riau tidak melalui pelabuhan resmi Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). Kepulangan yang tidak wajar ini menjadi cerita menarik di kalangan masyarakat.

Melalui pernyataan penasehat hukumnya, Hotman Paris Hutapea, Neneng pulang ke Batam melalui ‘pelabuhan tikus’ bersama rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Perjalanan yang ditempuh Neneng dari tempat pelariannya Malaysia menuju ke Batam tentulah tidak aman dan senyaman para penumpang resmi kapal ferry.

HNL adalah mantan TKI Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Dia merupakan salah satu TKI dari sekian ribu TKI lainnya yang pernah menikmati perjalanan gelap ke Malaysia tanpa bekal dokumen perjalanan resmi. Baik paspor, visa kerja, asuransi, atau dokumen pendukung lainnya.

Disinggung mengenai kepulangan Neneng tidak melalui pelabuhan resmi pada Selasa (12/6/2012) lalu, HNL hanya tersenyum. Menurutnya, yang berani berangkat atau pulang melalui ‘pelabuhan tikus’ adalah kaum laki-laki. Apabila ada, mungkin bisa dihitung dengan jari. Soalnya perjalanan ‘gelap’ itu taruhannya maut.

Senada juga dikisahkan WER, istri HNL yang pernah menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia tahun 1998 silam. WER bekerja di daerah Penang. Beberapa tahun kemudian visa kerjanya kadaluarsa (expired). Lalu WER memutuskan pulang ke Batam melewati jalur tidak resmi. Dia pulang melalui agen gelap dari Pantai Johor Malaysia.

WER menuturkan, dia pulang ke Batam tahun 1999 silam. Dia berangkat menaiki kapal nelayan (pompong). Berbeda dengan suaminya yang naik speedboat. Kapal yang ditumpangi WER ini ukurannya lebih kecil. Hanya bisa memuat maksimal 4 orang penumpang ditambah 1 tekongnya.

Jika menggunakan kapal ferry resmi, rutenya melalui Pelabuhan Setulang Laut, Pelabuhan Pasir Gudang dan menuju ke pelabuhan resmi di Batam. Kapal ferry resmi akan merapat ke Pelabuhan Batam Centre, Pelabuhan Sekupang, Pelabuhan Nongsa Pura, atau Pelabuhan Marina Teluk Senimba.

Berbeda dengan pompon yang dinaiki oleh WER, saat berangkat dari daerah Pantai Johor malam hari, tekong mengantarkannya di daerah Pantai Batu Merah Batu Ampar. Hanya saja dia tidak bisa mengingat lokasinya, sebab saat itu malam hari dan suasana di sekitar lokasi pantai cukup gelap.

"Setibanya di lokasi pantai Batu Merah Batam, kami bertiga diantarkan sampai ke daratan sama tekong kapal. Hanya saja tekong kapal tidak turun dan langsung pergi. Tekong darat mengantar kami sampai jalan raya. Dia hanya mengatakan ini kawasan Batu Merah dan kami ditinggal berlalu," ujar WER mengenang.

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan