Said Didu: Banyak Anak Perusahaan BUMN Lahir dari 'Perselingkuhan'

Presiden dalam rapat paripurna di Istana Negara beberapa waktu lalu memerintahkan agar 800 anak usaha BUMN dimerger atau dijual.

Said Didu: Banyak Anak Perusahaan BUMN Lahir dari 'Perselingkuhan'
Eri Komar Sinaga/Tribunnews.com
Said Didu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo dalam rapat paripurna di Istana Negara beberapa waktu lalu memerintahkan agar 800 anak usaha BUMN dimerger atau dijual.

Menurut Presiden, tidak perlu ada lagi BUMN yang mengurusi soal katering atau laundry.

Bekas Sekretaris Jenderal Kementerian BUMN Said Didu mengamini mengenai keburukan pendirian anak perusahaan BUMN. Said Didu bahkan mengungkapkan tidak sedikit didirikan dari hasil perselingkuhan.

Baca: Tarif Masuk Tempat Spa yang Digunakan Pesta Gay Rp 165 Ribu

"Terhadap pembenahan anak-anak perusahan di luar core bisnis, saya setuju karena tidak sedikit anak-anak BUMN setelah saya adalah lahir dari perselingkuhan orang yang berkepentingan untuk ikut memakan daging di BUMN," kata Said Didu saat diskusi 'Monopoli BUMN?' di Menteng, Jakarta, Sabtu (7/10/2017).

Walau demikian, Said Didu meminta agar penjualan anak perusahaan BUMN itu dikaji secara mendalam.

Said mengingatkan terminologi menjual anak perushaan BUMN bisa menimbulkan kecurigaan publik bahwa seakan-akan BUMN mau dijual untuk membiayai infrastruktur.

"Saya pikir Presiden kan pada saat kampanye mengatakan mau membeli Indosat, tapi kok sekarang berbalik mau menjual BUMN. Saya pikir perlu dipertimbangkan. Mungkin saja bukan itu maksudnya," ungkap Said.

Said mengkritik jika memang penjualan itu untuk biayai sejumlah pembangunan infrastruktur. Said menyarankan agar pembangunan infrastruktur yang belum mendesak agar ditunda mengingat pertumbuhan ekonomi hanya lima persen atau meleset dari targer tujuh persen.

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help