Breaking News:

Analisis RELI soal Penyebab Harga Saham Komoditas Melejit

Ini terjadi karena imbas optimisme awal rencana dari kebijakan pemerintah mengenai kebijakan pencampuran 20 persen minyak sawit ke BBM

Tribunnews/JEPRIMA
Petugas saat mengisi BBM mobil di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik PT Pertamina di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (31/8/2018). Saat ini sebanyak 60 terminal BBM Pertamina telah menyalurkan Biodiesel 20 persen atau B20 untuk PSO (Public Service Obligation/Subsidi). Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah saham berbasis komoditas, seperti perkebunan dan produsen sawit, dalam kurun waktu satu bulan terakhir melejit. Tak heran, pundi-pundi kantong pengoleksi saham komoditas kian gemuk.

Head of Research Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menjelaskan, saham-saham produsen minyak kelapa sawit pada bulan lalu bergerak melejit dimana pergerakan 1 bulan pada bulan Agustus mayoritas naik signifikan diantarnya AALI (+24.1 persen), LSIP (+38.8 persen), TBLA (+30.90 persen), SIMP (+5.6 persen)dan SSMS (+5.3 persen) .

Ini terjadi karena imbas optimisme awal rencana dari kebijakan pemerintah mengenai kebijakan pencampuran 20 persen minyak sawit ke BBM jenis solar yang akan berlaku pada solar subsidi dan solar non-subsidi pada 1 September 2018.

Dimana pemerintah melakukan penghematan devisa dalam impor minyak dengan target U$2.3 Miliar hingga akhir tahun.

“Sehingga investor berspekulasi kebijakan ini akan menambah permintaan dan konsumsi kelapa sawit dalam negeri sehingga berpengaruh pada kenaikan harga CPO di dalam negeri yang menguntungkan para produsen CPO,” ujar Lanjar, kepada media, Kamis (20/9).

Apakah di tengah tren kenaikan itu, saham komoditas layak dikoleksi?

Lanjar tetap mewanti-wanti, karena setelah diberlakukannya kebijakan B20, ternyata terdapat berbagai kendala dalam sistem pengangkutan kapal dan distribusi hingga pro dan kontra terhadap mesin mobil solar yang diklaim dengan adanya 20 persen campuran CPO akan memperpendek umur filter bahan bakar.

“Hal tersebut yang mendasari alasan investor untuk melakukan aksi profit taking pada bulan ini setelah pada bulan Agustus menguat signifikan,” ucapnya.

Secara historis, dijelaskan Lanjar, trend bearish dengan kondisi terkoreksi masih cukup membayangi saham-saham produsen CPO dalam negeri.

Karena terlepas dari sentimen dalam negeri mengenai kebijakan pemerintah harga CPO dunia sendiri, saat ini bergerak bearish hingga level terendah di tahun 2018 dimana pada bursa berjangka kuala lumpur tercatat 2176 ringgit/ton pada 19 september 2018 dengan return year to date -13 persen.

Halaman
12
Penulis: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved