Jumat Besok Rupiah Diprediksi Terus Melemah dan Tembus Rp 16.000 Per USD
Rupiah diproyeksikan akan menembus level Rp 16.000 pada perdagangan besok, Jumat 20 Maret 2020.
Laporan Reporter Hikma Dirgantara/Fitri Wulandari/Yanuar Yovanda
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rupiah diproyeksikan akan menembus level Rp 16.000 pada perdagangan besok, Jumat 20 Maret 2020.
Hari ini, Kamis (19/3/2020) ditutup melemah 4,53% ke level Rp 15.913 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara di kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 3,21% ke level Rp 15.712 per dolar AS.
Analis Monex Investindo Futures Faisyal melihat rupiah masih berpotensi melemah dan menembus level Rp 16.000 pada perdagangan besok.
Dia mengatakan, pemangkasan suku bunga oleh BI dinilai tidak akan terlalu berdampak positif dalam mengangkat kinerja rupiah.
Sebagai informasi, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI sore tadi mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi sebesar 4,5%.
“Upaya BI efeknya tidak akan besar dan terbatas. Berkaca dari Bank Sentral Eropa yang pagi tadi juga beri stimulus besar-besaran namun nyatanya euro tetap terpukul juga,” terang Faisyal ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (19/3/2020).
Namun, Head of Economics and Research Bank UOB Enrico Tanuwidjaja justru melihat upaya BI dirasa sudah cukup bagus.
Menurutnya, saat ini yang perlu diperhatikan adalah respons pasar terhadap upaya stabilisasi rupiah melalui kenaikan frekuensi item deposit, dan efek swap pricing pasca Giro Wajib Minimum (GWM) valas diturunkan.
“Ini kan baru ditetapkan per hari ini, dan baru efektif besok. Jadi bisa kita lihat seberapa banyak kebijakan tersebut bisa menambah suplai dolar AS dari instrumen term deposit valas dan effect swap option,” tutur Enrico.
Faisyal memproyeksikan rupiah besok akan bergerak pada rentang Rp 15.800 - Rp 16.200 per dolar AS.
Sementara Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana menghitung rupiah akan berada pada rentang Rp 15.360-Rp 16.660 per dolar AS.
“Ada kemungkinan bisa menembus Rp 16.000. Hal ini dikarenakan sepertinya investor sedikit merasa insecure, apalagi investor asing. Sehingga membuat likuiditas dolar AS di pasar nilai tukar pun anjlok,” ujar Fikri.
Sinyal Tanda-tanda Pra-Krisis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/suasana-penukaran-uang-di-money-changer-vip-menteng_20181009_153007.jpg)