Jumat Besok Rupiah Diprediksi Terus Melemah dan Tembus Rp 16.000 Per USD
Rupiah diproyeksikan akan menembus level Rp 16.000 pada perdagangan besok, Jumat 20 Maret 2020.
Menyikapi tren pelemahan rupiah yang hari ini hingga hampir menyentuh level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pengamat menilai ini sebagai sinyal Indonesia sedangmenghadapi fase pra-krisis ekonomi.
Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara mengakui, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi buruk.
"Tidak bisa ditutupi lagi bahwa kondisi ekonomi semakin memburuk, pelemahan kurs rupiah terhadap dollar yang bergerak dalam tempo yang cepat menjadi indikator pra-krisis ekonomi," ujar Bhima kepada Tribunnews, Kamis (19/3/2020) siang.
Bahkan ia memprediksi akan terjadi krisis ekonomi yang lebih parah dibandingkan tahun 2008.
"Saya tidak mau menutup-nutupi lagi, bahwa amunisi bank sentral untuk meredam pelemahan rupiah makin terbatas. Hal ini bisa terlihat dari rasio cadangan devisa (cadev) Indonesia yang kecil dibandingkan negara lainnya," kata Bhima.
Menurut data CEIC, perbandingan cadangan devisa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia per 2019 adalah 10,9 persen dan trennya terus mengalami penurunan.
"Sementara Rasio cadev terhadap PDB Malaysia 27,2 persen, Thailand 39,4 persen, dan Filipina 21,7 persen."
"Artinya dibandingkan negara lain di Asean, Indonesia paling kecil amunisi Bank sentral untuk menjaga stabilitas kurs rupiah," kata Bhima Yudhistira.
BI Intervensi Pasar
Bank Indonesia (BI) diketahui terus berada di pasar untuk menahan kemerosotan kurs rupiah terhadap dolar yang terus terjadi sepanjang perdagangan beberapa waktu terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya mengintervensi pasar valas melalui 3 instrumen, yakni pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan juga pembelian di pasar sekunder.
Perry Warjiyo mengatakan, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sudah mencapai Rp 195 triliun selama tahun 2020.
"Kami sudah membeli hampir Rp 195 triliun SBN yang dilepas oleh asing. Itu kami lakukan dalam upaya menjaga stabilitas rupiah termasuk juga di pasar spot maupun DNDF," ujarnya saat teleconference di Jakarta, Kamis (19/3/2020).
Dia mengungkapkan, cadangan devisa tercatat sebesar 130,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Langkah-langkah diambil BI untuk memastikan likuiditas rupiah. Misalnya tahun ini kami sudah menginjeksi likuiditas ke pasar uang dan bank dalam jumlah yang cukup besar," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/suasana-penukaran-uang-di-money-changer-vip-menteng_20181009_153007.jpg)